EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup turun 0,83 persen menjadi 6.071, setelah sempat menguat hingga level 6.187. Secara teknikal, histogram MACD masih berada di area negatif, dan Stochastic RSI masih berada di area oversold. So, IHSG diperkirakan masih konsolidasi.

Sepanjang perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026, IHSG akan menyusuri kisaran support 6.000, dan resistance 6.200. Investor akan menanti data inflasi domestik yang berdasar konsensus akan terjadi kenaikan menjadi 0,31 persen MoM September 2026 dari Agustus 2026 di level 0,21 persen.

Dengan begitu, secara tahunan inflasi September 2026 diperkirakan menjadi 3,3 persen YoY dari 3,19 persen YoY. Untuk inflasi inti diperkirakan juga meningkat menjadi 3 persen YoY dari 2,92 persen YoY. Dalam APBN 2027, Pemerintah dan DPR sepakat menetapkan anggaran subsidi energi Rp261,5 triliun.

Berarti mengalami penurunan Rp11,4 triliun dari rencana awal dalam nota keuangan, dan RAPBN 2027 mencapai Rp272,94 triliun. Kalau harga minyak berlanjut meningkat hingga tahun depan, maka berpotensi akan membuat inflasi cenderung bertahan di level tinggi. Surplus neraca perdagangan diperkirakan bertambah menjadi USD0,6 miliar pada Agustus 2026 dari Juli 2026 senilai USD0,13 miliar.

Namun, pertumbuhan ekspor diperkirakan melambat menjadi 4,2 persen YoY dari 6,05 persen YoY. Sedangkan impor diperkirakan justru berakselerasi menjadi tumbuh 31,7 persen YoY Agustus 2026 dari Juli 2026 sebesar 27 persen YoY. Indeks S&P Global Manufacturing PMI diperkirakan kembali naik pada level ekspansi 50,3 September 2026 dari level 49,8.

Berdasar data dan fakta tersebut, Phintraco Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk menyerap sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Merdeka Gold Resources (EMAS), Indofood Sukses Makmur (INDF), Aneka Tambang (ANTM), Indah Kiat (INKP), dan Bank Danamon (BDMN). (*)