EmitenNews.com - Pemerintah berencana menambah kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW). Dalam perhitungan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia megaproyek listrik hijau itu, membutuhkan investasi sekitar USD70 miliar-USD73 miliar atau mencapai hingga Rp1.306 triliun, dengan asumsi kurs Rp17.895,94.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengemukakan hal tersebut dalam acara MKI Electricity Connect 2026, seperti dikutip Rabu (23/9/2026). Proyek listrik hijau andalan pemerintahan Presiden Prabowo itu ditargetkan bisa selesai dalam waktu tiga tahun.

Bahlil menyebut pengembangan PLTS 100 GW tersebut merupakan bagian dari langkah nyata pemerintah untuk mengejar target net zero emission (NZE) Indonesia, di tengah perubahan komitmen sejumlah negara terhadap Paris Agreement.

Bahlil menilai forum tersebut sangat penting untuk kampanye listrik hijau itu. Hal itu penting, sekalipun negara-negara lain keluar daripada Paris Agreement untuk net zero emission dengan menggantikan fosil mereka kepada energi baru terbarukan.

“Bapak Presiden Prabowo memerintahkan kepada kita bahwa Indonesia harus jalan, sekalipun negara yang hebat-hebat itu keluar, Indonesia tetap konsisten memenuhi target net zero emission di 2050 sampai dengan 2060," kata ketua umum Partai Golkar tersebut.

Komitmen tersebut juga tidak berhenti pada target, tetapi diterjemahkan pemerintah dalam sejumlah program konkret. Salah satunya melalui revisi dan implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

"Caranya apa? Di RUPTL kita-kita dorong 70% adalah energi baru terbarukan dan kita menambah 100 gigawatt PLTS," kata dia.

Berdasarkan perhitungan Kementerian ESDM, pembangunan PLTS dengan total kapasitas 100 GW membutuhkan investasi sekitar USD70 miliar hingga USD73 miliar. Karena besarnya investasi yang diperlukan, harus ada kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pengusaha.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan program PLTS 100 GW merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat kemandirian dan swasembada energi Indonesia. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya energi yang harus dimanfaatkan secara optimal, mulai dari tenaga surya, panas bumi, gas, hingga minyak. Pemanfaatan seluruh potensi tersebut harus dilakukan secara terpadu untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

"Intinya dengan 100 gigawatt kita akan benar-benar menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki kita sendiri! Kita tidak akan takut perkembangan apa pun di bagian mana pun dunia," ujar Presiden Prabowo Subianto saat meluncurkan dan melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking Program PLTS 100 GWp di Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa, 25 Agustus 2026.