EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan kenaikan seiring meningkatnya kekhawatiran pasar atas eskalasi ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Iran serta gangguan cuaca ekstrem.

Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (8/10), harga minyak mentah naik mendekati USD89 per barel, sementara minyak acuan Brent melonjak nyaris menyentuh level USD101 per barel. Lonjakan ini memulihkan sebagian kerugian dari sesi perdagangan sebelumnya.

Penguatan harga minyak terjadi menyusul laporan bahwa pemerintahan Trump telah menginstruksikan Pentagon untuk mengembangkan opsi serangan terhadap Iran yang dapat dilakukan sebelum pemilihan paruh waktu. Perkembangan tersebut bertentangan dengan harapan umum pasar bahwa Presiden Donald Trump akan menahan diri dari meningkatkan ketegangan dengan Teheran menjelang pemilihan November.

Selain dinamika geopolitik di Timur Tengah, pasokan minyak global juga tertekan oleh gangguan cuaca di kawasan Amerika Utara. Para produsen minyak di Teluk Meksiko menghentikan produksi minyak mentah lebih dari 510.000 barel per hari, atau setara dengan seperempat total produksi kawasan tersebut, akibat ancaman Badai Tropis Isaias.

Dari kawasan Timur Tengah, ekspor minyak secara bertahap mulai kembali ke tingkat sebelum perang dalam beberapa pekan terakhir. Namun, risiko gangguan pasokan tetap membayangi pasar akibat berlanjutnya aksi serangan terhadap kapal-kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz.

Pada saat yang sama, Eskalasi konflik regional turut dipicu oleh aksi kelompok Houthi yang didukung Iran melalui serangan terhadap sejumlah target di Arab Saudi. Serangan tersebut memicu gelombang aksi balasan baru dari koalisi pimpinan Riyadh terhadap posisi militer di Yaman.

Lompatan harga minyak mentah ke kisaran USD89 hingga USD101 per barel ini perlu menjadi perhatian serius Indonesia sebagai negara pengimpor minyak (net oil importer), lantaran berpotensi membebani anggaran subsidi energi serta memicu tekanan inflasi domestik.(*)