EmitenNews.com - Mengawali Oktober, indeks bursa Wall Street berhasil ditutup menguat tipis. Itu seiring imbal hasil obligasi pemerintah turun dari level tertinggi, dan soliditas laporan keuangan Micron Technology di tengah lonjakan harga minyak mentah. Sepanjang sesi, pergerakan imbal hasil obligasi bergerak cukup fluktuatif.

Sempat menyentuh level tertinggi harian sejak 2002, dan 24 tahun lalu, imbal hasil obligasi dengan tenor 10 dan 30 tahun akhirnya ditutup turun masing-masing 5 bps dan 3 bps. Sedang untuk tenor lebih pendek yaitu 3 tahun tercatat terkoreksi lebih besar 10 bps. Saham Micron technology ditutup menguat 3,03 persen.

Itu setelah melaporkan pendapatan, dan laba bersih lebih baik dari ekspektasi. Kondisi itu, ditopang lonjakan permintaan untuk infrastruktur AI. Penguatan indeks bursa Wall Street, dan harga beberapa komoditas seperti minyak mentah, timah, emas, dan batu bara diprediksi menjadi sentimen positif pasar.

Di sisi lain, aksi jual masif investor asing berlanjut, depresiasi nilai tukar rupiah, dan sektor teknologi tertekan akibat perubahan batas minimal harga saham, berpeluang menjadi sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). So, IhSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 5.950-5.890, dan resistance 6.070-6.130.

Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Petrindo Jaya (CUAN), AKR Corporindo (AKRA), Surya Semesta Internusa (SSIA), Erajaya Swasembada (ERAA), Petrosea (PTRO), dan Bank Danamon (BDMN). (*)