EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Kamis (8/10/2026) di pasar spot. Rupiah tertekan akibat sentimen hawkish Federal Reserve dan ketegangan geopolitik.

Berdasarkan data perdagangan pasar spot pada Kamis (8/10), rupiah ditutup pada level Rp17.915 per dolar AS. Mata uang Garuda melemah 28 poin atau 0,16 persen dibandingkan penutupan kemarin di level Rp17.887 per dolar AS.

Sementara itu, konversi real time Google mencatat rupiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.893 hingga Rp17.915 per dolar AS pada sesi perdagangan. Bank Indonesia menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) sebesar Rp17.890 per dolar AS. Data kurs penutupan pukul 16:00 WIB dari Bloomberg dan Reuters tercatat di kisaran Rp17.915 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak dalam rentang level tertinggi Rp17.860 dan level terendah Rp17.915 per dolar AS. Pelemahan ini juga melanda mayoritas mata uang negara tetangga di kawasan Asia. Baht Thailand, peso Filipina, dan ringgit Malaysia turut mencatatkan penurunan terhadap dolar AS.

"Sikap hawkish The Fed dalam risalah FOMC dan konflik di Selat Hormuz memicu penguatan indeks dolar AS," kata Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi.

Sentimen global menjadi penggerak utama pasar valuta asing. Risalah The Fed mengindikasikan peluang kenaikan suku bunga acuan lanjutan. Eskalasi konflik di Timur Tengah menaikkan permintaan aset aman. Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar USD146,3 miliar per akhir September 2026.(*)