EmitenNews.com - Harga emas dunia diperdagangkan di kisaran USD4.270 per ons pada Jumat (25/9) dan berada di jalur penurunan lebih dari 2 persen sepanjang pekan ini. Penurunan harga logam mulia ini tertekan oleh penguatan mata uang dolar Amerika Serikat serta lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Data ekonomi Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan serta tingginya harga minyak dunia memicu kekhawatiran atas inflasi yang berlanjut. Kondisi tersebut mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve masih perlu menaikkan suku bunga acuan untuk menekan laju inflasi.

Berdasarkan laporan Trading Economics pada perdagangan Kamis, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun dan 30 tahun melambung ke level tertinggi masing-masing sejak tahun 2007 dan 2004. Pada saat bersamaan, indeks dolar Amerika Serikat menguat hingga menyentuh posisi tertinggi dalam hampir dua bulan terakhir.

Ekspektasi pasar saat ini menunjukkan probabilitas sekitar 67 persen bagi Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga pada Oktober. Langkah ini berpotensi melanjutkan kenaikan suku bunga pertama dalam tiga tahun terakhir yang telah diputuskan pada pekan lalu.

Di sisi lain, harga minyak dunia mencatatkan penurunan menyusul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran sedang mempertimbangkan kesepakatan bertahap. Pembahasan tersebut berpotensi membuka kembali Selat Hormuz serta mencabut blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Penurunan harga emas global yang diiringi penguatan dolar Amerika Serikat berpotensi menahan kenaikan harga emas batangan domestik. Selain itu, penguatan mata uang Paman Sam tersebut berisiko memberikan tekanan terhadap stabilitas nilai tukar Rupiah.(*)