EmitenNews.com - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS di pasar spot terpantau melemah ke tingkat Rp17.940 per Dolar AS pada perdagangan Jumat siang 25 September 2026. Mata uang Garuda tercatat terdepresiasi sebesar 14 poin atau sekitar 0,08 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp17.916 per Dolar AS, dengan pergerakan harian berada di rentang level terendah Rp17.978 per Dolar AS dan level tertinggi Rp17.855 per Dolar AS.

Pelemahan Rupiah dipicu oleh tingginya pemenuhan kebutuhan valuta asing dari importir domestik menjelang akhir triwulan III-2026. Sementara dari faktor global, penguatan indeks Dolar AS didorong oleh kenaikan imbal hasil US Treasury 10-tahun serta kekhawatiran konflik geopolitik di Timur Tengah yang menaikkan harga minyak mentah.

Kenaikan imbal hasil surat utang AS membuat aset berorientasi dolar semakin diminati pasar. Faktor ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga mendongkrak harga minyak Brent hingga melampaui 100 dolar AS per barel.

"Tekanan juga berasal dari ketidakpastian konflik Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia, sehingga harga minyak Brent kembali di atas USD100 per barel," jelas Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI.

Kebutuhan valuta asing di pasar domestik juga melonjak signifikan menjelang penutupan kuartal ketiga tahun 2026. Fenomena ini diperparah oleh maraknya arus modal keluar dari aset-aset negara berkembang.

"Dari domestik, tekanan nilai tukar dipengaruhi kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III dan arus keluar portofolio dari aset emerging markets," ungkap Erwin.

Pergerakan Rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang cenderung bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah terhadap Dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang negara berkembang masih dipengaruhi oleh sikap pasar yang mencermati dinamika suku bunga global serta lonjakan harga energi.(*)