EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berbalik melemah pada perdagangan awal pekan, Senin (5/10) pukul 10:00 WIB. Berdasarkan data pantauan pergerakan kurs real-time Google Finance, mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 50 poin atau 0,28 persen ke posisi Rp17.937 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (2/10) di level Rp17.887 per dolar AS.

Sejak pembukaan perdagangan pasar valuta asing pagi ini, pergerakan rupiah mencatatkan fluktuasi yang cukup dinamis. Mata uang domestik sempat menyentuh level tertinggi pagi di posisi Rp17.890 per dolar AS sebelum akhirnya tertekan hingga menyentuh level terendah pagi di kisaran Rp17.950 per dolar AS.

Pelemahan rupiah di pasar spot dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah pecahnya pertempuran di Selat Bab el-Mandeb, Yaman. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia hingga melampaui USD100 per barel dan memperkuat permintaan terhadap aset aman (safe haven) berdenominasi dolar AS.

Selain faktor gejolak geopolitik, tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) bertenor 10 tahun yang masih berada di kisaran tertinggi sejak 2002 turut membayangi pergerakan mata uang kawasan Asia.

Kendati demikian, laju koreksi rupiah tertahan oleh melandainya rilis data penyerapan tenaga kerja AS (non-farm payrolls) September 2026. Angka ketenagakerjaan yang berada di bawah estimasi tersebut meredakan spekulasi pasar terkait kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve.

Pergerakan nilai tukar rupiah yang mendekati rentang Rp18.000 per dolar AS ini menjadi perhatian utama para pelaku pasar modal dan industri impor di Tanah Air. Intervensi Bank Indonesia di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) diharapkan dapat menstabilkan volatilitas kurs sepanjang hari perdagangan.(*).