The Next Black Swan Sudah Dekat?
:
0
The Next Black Swan Sudah Dekat? Dok. Corporate Finance Institute
EmitenNews.com - Tidak sekali ataupun dua kali terjadi, pasar keuangan tumbang bukan karena risiko yang terlihat -akan tetapi- karena ancaman risiko yang terabaikan. Sebelum krisis multidimensi global 2008 melanda -bukankah- mayoritas dari pelaku pasar menyakini bahwa sistem keuangan dunia akan baik-baik saja.
Sementara, tatkala hantaman pandemi COVID-19 nyata terjadi menghentikan aktivitas “jarum jam" global, nyaris tidak ada investor yang menduga ekonomi dunia bisa berhenti total hanya dalam hitungan minggu.
Fenomena tersebut dikenal luas sebagai Black Swan. Pertama kali dipopulerkan Nassim Nicholas Taleb (2007) yang menjelaskan peristiwa langka, mustahil diprediksi. Akan tetapi, berdampak sungguh dahsyat bagi sistem perekonomian dan pasar keuangan.
Ironisnya, Black Swan senantiasa berjalin berkelindan. Sering kali, pasar keuangan lelet saat menyadari ancaman risisko tumbuh merambat dari bawah permukaan. Bahkan, sejarah pasar modal menunjukkan pola yang terus berulang. Indeks harga di pasar acap kali mencapai puncaknya saat risiko sistemik mengendap melalui jalan sunyi.
Menjelang krisis 2008, indikator stres pasar -termasuk pertumbuhan kredit melonjak dan leverage korporasi tinggi- telah memberi alaram. Namun demikian, persepsi investor tetap pada horizon stabil dan banyak model risiko gagal mendeteksi potensi kehancuran likuiditas dan nilai aset secara mendadak (IMF, Global Financial Stability Report, Oktober 2008).
Hari ini, akankah sejarah kembali menghadang? “Angsa Hitam” sudah di depan mata -muncul dari arah yang tidak pernah kita duga- sembari menunggu saat optimisme pasar mencapai puncaknya sebelum kejutan menghantam? Bukankah dunia menghadapi situasi yang mirip periode sebelum mega krisis sebelumnya.
Pasar saham global bergerak optimistis, sementara teknologi melesat cepat. Namun demikian, berbagai risiko baru terus terakumulasi. One more time, apakah Black Swan berikutnya sedang mengintai kita?
Benarkah, salah satu kandidat terkuat adalah kecerdasan buatan (AI)? Banyak pihak melihat AI sebagai revolusi karena mendorong produktivitas dan mesin pertumbuhan ekonomi terkini. Namun demikian, tidak banyak yang membahas AI dari sisi risiko sistemik keuangan yang mengancam. Saat ini, AI terus melaju, marak digunakan. Mulai dari perdagangan algoritmik, analisis kredit, pengelolaan investasi, hingga pengambilan keputusan otomatis di sektor perbankan.
Ketergantungan pasar terhadap algoritma meningkat drastis (Financial Stability Board, 2024). Risiko muncul ketika sistem yang saling terhubung membuat kesalahan serentak, dampaknya dapat meluas dalam hitungan detik. Fenomena flash crash -pertama kali banyak dibicarakan setelah kasus besar di pasar saham AS (6 Mei 2010) ketika Dow Jones anjlok hampir 1.000 poin hanya dalam beberapa menit, sebelum pulih kembali (FLOG, 2026)- sebelumnya menegaskan potensi ini: kejatuhan harga ekstrem akibat perdagangan otomatis berbasis algoritma.
Pada masa depan, AI dengan kemampuan pengambilan keputusan jauh lebih cepat bila dibanding kemampuan manusia dapat memicu spiral penjualan sedemikian rupa sehingga sulit dikendalikan. Semakin canggih teknologi, semakin cepat risiko menyebar. Sementara, ancaman yang kurang diperhatikan juga muncul dari arena digital. Serangan siber kini menjadi risiko finansial global.
Related News
Rahasia Konglo, Ambil Ceruk Bisnis AMDK?
KPR Tenor 40 Tahun, Apakah Membumi?
Menakar Dampak Kenaikan Harga BBM Pertamax
Di Balik Lonjakan IHSG 7,57%, Peta Risiko Global Masih Mengintai
Ketika Pasar Modal Memvonis Tata Kelola 1/2 Hati
Sawit dan Paradoks Kebijakan: Penyumbang Devisa yang Terus Dicurigai





