Turun 4 Hari Beruntun, Minyak Mentah Bertahan di USD96
:
0
Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren penurunan seiring meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di Timur Tengah. (Foto: Magnific)
EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren penurunan seiring meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di Timur Tengah. Pelemahan harga minyak internasional ini terjadi setelah komoditas energi tersebut mencatatkan penurunan selama empat sesi berturut-turut.
Harga minyak mentah bertahan di bawah level USD96 per barel pada perdagangan Selasa. Sementara itu, harga minyak mentah Brent diperdagangkan mendekati level USD100 per barel.
Menurut Trading Economics, penurunan harga komoditas energi ini dipengaruhi oleh meningkatnya intensitas upaya diplomatik untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump dijadwalkan berpidato di Majelis Umum PBB di New York serta membuka kemungkinan bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela forum tersebut.
Selain agenda dengan Iran, Trump diperkirakan akan melangsungkan diskusi bersama para pemimpin negara Teluk dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pekan ini. Sebagai langkah penanganan dampak konflik, pemerintahan Trump telah mengusulkan alokasi dana sebesar USD5 miliar untuk mendukung pembangunan kembali infrastruktur yang rusak akibat perang di kawasan Timur Tengah.
Dari sisi pasokan fisik, pengiriman komoditas minyak mentah dari kawasan Teluk terus berjalan. Arab Saudi mencatatkan pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz sebanyak 2,9 juta barel per hari selama enam hari terakhir.
Data citra satelit juga memperlihatkan keberadaan kapal tanker super (supertanker) dengan total kapasitas gabungan mencapai 14 juta barel di terminal ekspor Teluk Arab Saudi sepanjang akhir pekan. Jumlah armada kapal tanker tersebut menjadi volume tertinggi yang teramati setidaknya sejak Juni.
Bagi perekonomian Indonesia, melandainya harga minyak mentah di kisaran USD96 hingga USD100 per barel memberi dampak positif terhadap ketahanan fiskal nasional. Sebagai negara importir berskala bersih (net importer), penurunan harga minyak internasional berpotensi mengurangi tekanan beban subsidi energi dan kompensasi BBM dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sekaligus meredakan potensi risiko inflasi di dalam negeri.(*)
Related News
Saham AI Melesat, Kontrak Berjangka Wall Street Stabil
Pramono Tawarkan 37 Proyek Jakarta Senilai USD7 Miliar di Forum U20 AS
Menggembirakan, Penerimaan Bea Cukai Rp210 Triliun, Tumbuh 7,8 Persen
Minyak Turun Tahan Emas Dunia, Harga Antam Justru Merosot
Minyak Turun, Emas Pertahankan Posisi di Atas USD4.350
Ancaman Intervensi BOJ Bayangi Penguatan Yen





