EmitenNews.com - Penurunan laba bersih membayangi kinerja PT Sunindo Pratama Tbk. (SUNI) sepanjang tahun buku 2025, meski perseroan masih mampu menjaga profitabilitas di level yang relatif solid dalam dua tahun terakhir.

Berdasarkan keterangan resmi SUNI pada Rabu (1/4/2026), laba bersih SUNI tercatat sebesar Rp192 miliar pada 2025, turun 7 persen secara year on year (yoy) dibandingkan periode sebelumnya.

SUNI berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar Rp982 miliar pada tahun 2025 atau mengalami penurunan sebesar 6 persen YoY dibandingkan periode yang sama di tahun 2024 dan telah mencapai revisi target pendapatan Perseroan tahun ini sebesar 103 persen.

Direktur Utama SUNI, Willy Johan Chandra, menyampaikan bahwa kinerja perseroan masih berada dalam koridor strategis yang telah ditetapkan.

“Jika melihat rata-rata penjualan maupun laba dalam beberapa tahun ini masih cukup baik dan masih dalam koridor rencana strategis Perseroan,” ujar Willy.

Tekanan pada pendapatan terutama dipicu oleh penurunan volume penjualan OCTG casing, meski sebagian tertahan oleh peningkatan penjualan OCTG tubing. Kendati demikian, realisasi pendapatan tersebut masih mencapai 103 persen dari target revisi perseroan.

Beranjak ke sisi lain, ekuitas SUNI justru meningkat 10 persen yoy menjadi Rp863 miliar. Kenaikan ini ditopang oleh akumulasi laba berjalan, meski sebagian telah dialokasikan untuk pembagian dividen sebesar Rp50 miliar serta pembelian kembali saham senilai Rp70 miliar.

Melihat arus kasnya, aktivitas operasional SUNI mengemas kas positif sebesar Rp93 miliar, namun turun 65 persen yoy akibat peningkatan pembayaran kepada pemasok.

Sementara itu, arus kas investasi tetap tinggi mencapai Rp200 miliar, terutama untuk pembangunan pabrik kedua PT Rainbow Tubulars Manufacture (RTM) di Batam.

Willy menambahkan, peningkatan kapasitas produksi menjadi fokus utama perseroan ke depan.

“Saat ini Perseroan masih memprioritaskan peningkatan kapasitas produksi internal melalui anak perusahaannya, PT Rainbow Tubulars Manufacture (RTM). Fasilitas pabrik ke-2 RTM ditargetkan mulai beroperasi pada semester ke-2 tahun 2026,” kata Willy.

Sementara itu, Direktur Keuangan Freddy Soejandy menyampaikan bahwa realisasi belanja modal sepanjang 2025 mencapai Rp190 miliar untuk mendukung penyelesaian proyek tersebut.

“Perseroan akan dapat memenuhi kebutuhan dana untuk penyelesaian pabrik tersebut karena tahun depan sudah tidak akan terlalu signifikan lagi pengeluaran capexnya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Freddy.