EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street ditutup melemah signifikan. Itu setelah presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengindikasikan negosiasi dengan Iran dinilai “terlalu lama”, dan mengancam akan melakukan serangan militer lebih lanjut. Ketiga indeks mengalami aksi jual setelah Trump akan menyerang Iran dengan kekuatan militer lebih besar.

Tensi geopolitik antara kedua negara tersebut kembali memanas sejak Selasa malam setelah AS melakukan serangan militer yang diklaim sebagai aksi balasan. Pasalnya, Iran menjatuhkan helikopter militer jenis Apache yang sedang berpatroli di selat Hormuz. Sejalan eskalasi geopolitik harga minyak mentah lengsung meroket.

Minyak mentah jenis WTI mencatat kenaikan 2,07 persen menjadi USD90,03 per barel, dan untuk Brent menguat 1,8 persen menjadi USd93,10 per barrel. Koreksi bursa Wall Street seiring tensi geopolitik Timur Tengah, dan aksi jual masif investor asing diprediksi akan menjadi sentimen negatif pasar.

Sementara itu, penguatan nilai tukar rupiah berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat. Sepanjang perdagangan hari ini, Kamis, 11 Juni 2026, IHSG akan menyusuri kisaran support 5.760-5.620, dan resistance 6.045-6.190.

Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), Merdeka Battery (MBMA), Timah (TINS), Indosat Ooredoo (ISAT), dan Alamtri Indonesia (ADRO). (*)