EmitenNews.com - Daya beli masyarakat Indonesia baik-baik saja. Paling tidak, dalam penilaian Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo anggapan bahwa daya beli masyarakat Indonesia melemah tidak sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS). Politikus PAN ini menyebutkan, konsumsi masyarakat masih tumbuh kuat, tetapi terjadi perubahan pola belanja.

Wamenko Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengemukakan hal tersebut seusai bertemu Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (12/10/2026). Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas sejumlah indikator ekonomi, termasuk perkembangan konsumsi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional. 

“Yang pertama bisa saya sampaikan, tidak betul kalau daya beli masyarakat) di Indonesia melemah. Salah,” kata ekonom senior itu.

Menurut Dradjad, data BPS menunjukkan pengeluaran masyarakat masih terjaga. Karena itu, penurunan penjualan pada sejumlah jenis barang tidak bisa langsung diartikan sebagai pelemahan daya beli secara keseluruhan.

Salah satu indikator kuatnya konsumsi masyarakat terlihat dari pertumbuhan sektor transportasi dan pariwisata. Meningkatnya aktivitas perjalanan turut mendorong pengeluaran masyarakat untuk berbagai layanan jasa.

Tren serupa terlihat pada sektor restoran dan hotel. Dradjad menjelaskan, masyarakat kini semakin banyak mengalokasikan pengeluaran untuk bepergian, berwisata, dan menggunakan layanan lainnya. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan kebutuhan dan kebiasaan belanja.

Dradjad juga menyoroti transaksi menggunakan quick response code Indonesian standard (QRIS) yang tumbuh lebih dari 100%. Peningkatan transaksi digital diklaim menjadi salah satu indikator aktivitas konsumsi masyarakat yang masih kuat.

Kemudian, perubahan pola konsumsi juga terlihat dari meningkatnya aktivitas belanja melalui lokapasar (marketplace) dan platform daring. Dradjad mencontohkan, sebagian masyarakat mengalihkan pengeluaran dari pembelian barang tertentu, seperti sepatu dan alas kaki, untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

“Jadi yang terjadi itu bukan daya beli melemah. Yang terjadi adalah pergeseran pola konsumsi masyarakat yang sangat signifikan,” tegasnya.

Dalam pernyataannya, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan konsumsi rumah tangga masih mencatatkan pertumbuhan positif. Berdasarkan data BPS, konsumsi masyarakat pada semester I 2026 tumbuh di atas 5%, dengan pertumbuhan relatif tinggi pada sektor transportasi, restoran, dan hotel.