EmitenNews.com - Imbal hasil (yield) obligasi Treasury Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun naik ke kisaran 5,2 persen pada perdagangan Senin (28/9/2026). Lonjakan ini mempertahankan posisi imbal hasil surat utang pemerintah AS tersebut di level tertinggi sejak Juli 2007 atau dalam 19 tahun terakhir.

Melonjaknya yield obligasi dipicu oleh menguatnya ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga acuan untuk meredam inflasi. Data ekonomi AS mencatatkan kenaikan pesanan barang modal manufaktur pada Agustus melebihi perkiraan, disertai lonjakan ekspektasi inflasi dalam survei sentimen konsumen Universitas Michigan pada September.

Indikator ekonomi yang solid tersebut memperkuat perkiraan pasar terhadap kebijakan moneter ketat di AS. "Pasar saat ini memperkirakan sekitar 66% kemungkinan kenaikan suku bunga Fed pada bulan Oktober," bunyi laporan Trading Economics pada Senin (28/9/2026).

Laporan tersebut menambahkan, upaya Menteri Keuangan AS Bessent untuk menahan imbal hasil jangka panjang melalui peningkatan pembelian kembali (buyback) obligasi Treasury dinilai pelaku pasar hanya memberikan dampak yang terbatas.

Pelaku pasar finansial global saat ini menunggu rilis indikator inflasi utama pilihan The Fed serta data tenaga kerja AS yang dijadwalkan keluar pekan ini guna memperoleh panduan arah kebijakan moneter selanjutnya.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS hingga ke level tertinggi dalam dua dekade ini berpotensi memicu pelebaran yield spread antara surat utang AS dan Surat Berharga Negara (SBN), meningkatkan risiko penarikan modal asing (capital outflow), serta menekan stabilitas nilai tukar rupiah di pasar uang domestik.(*)