#

PBV Bank Artos (ARTO) Dinilai Sudah Terlalu Tinggi Dibadingkan Tiga Bank Besar Ini

EmitenNews – Fantastis, mungkin kata tersebut pantas disematkan buat saham PT Bank Artos Indonesia Tbk. Bagaimana tidak, untuk kesekian kalinya saham berkode ARTO masih tercatat menguat hingga akhir pekan kemarin, Jumat, 16 November 2019, sebesar 9,26 persen atau sebesar Rp250 ke Rp2.950. Bahkan di hari yang sama, saham ini sempat menguat 25 persen. Total, jika dihitung dari awal tahun, saham ARTO telah tercatat menguat hingga 1.469 persen.

Apa yang membuat saham ini begitu kuat dan meroket hingga sempat kena batas atas penolakan sistem perdagangan alias auto reject atas beberapa kali, ketika sahamnya menyentuh kenaikan 24,64 persen.

Seperti diketahui, sentimen merger dan akuisisi mewarnai pemberitaan Bank yang bermarkas di Bandung ini. Setelah Bankir senior Jerry Ng dan pengusaha Patrick Walujo berkongsi akan mencaplok 51% saham Bank Artos, nantinya bank ini akan dibawa menjadi bank digital yang melayani segmen menengah dan mass market menggunakan teknologi.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengungkapkan, dirinya melihat sebetulnya dari awal pergerakan saham ARTO murni hanya terkait dengan sentimen yang sebetulnya tidak pasti.

“Banyak gossip di balik akuisisi ini. Lalu, tujuannya apa? Mungkin saja membuat sahamnya menjadi lebih menarik. Namun apakah itu benar atau tidak, siapa yang tahu?,” jelasnya kepada wartawan akhir pekan kemarin.

Oleh sebab itu ia menyampaikan kepada investor untuk selalu tetap hati hati ketika informasi yang diterima belum pasti.
Di dunia ini pada prinsipnya, ujar dia tidak ada yang instan, mau untung banyak di saham pun tidak semudah membalikkan telapak tangan.

“Apakah ini saat yang tepat untuk masuk? Boleh masuk tapi prinsipnya nothing to lose saja. Siap menang, harus siap kalah,” jelasnya.

Boleh jadi dalam jangka panjang, saham emiten ini memiliki prospek yang positif. Hal tersebut didukung oleh rencana manajemen baru mengembangkan konsep bank digital dan susunan pengurus bank yang berlatar para professional dan terbukti telah melakukan terobosan/transformasi digital di bank sebelumnya.

Namun yang perlu diperhatikan PBV ratio saham ARTO sudah tercatat sebesar 35,12x dan PER di -128,26x jika mengacu data RTI per 15 November 2019. Bandingkan dengan bank bank lain seperti BBRI yang memiliki PBV 2,53x dan PER 15,26x. Sementara PBV, BBCA 4,61x dan PER 27,74x. Sedangkan PBV BMRI dan BBNI masing-masing 1,62x, 1,15x dengan PER 12,00x, 8,70x. Artinya, dengan angka tersebut harga saham ARTO tergolong sudah mahal.

Hal lain yang mesti dicermati oleh investor adalah akuisisi bank ini tidak berimplikasi pada pelaksanaan tender offer untuk pemegang saham non pengendali. Tidak adanya kewajiban tender offer ini disebabkan aturan pembatasan kepemilikan bank, sementara pemegang saham pengendali baru (PT MEI dan WWT) maksimal hanya memiliki 51% saham.

Pengamat pasar modal, Satrio Utomo sendiri mengungkapkan, untuk masuk saham sektor finance, ada baiknya pemodal juga melihat rasio PBVnya.

Melihat PBV dapat membantu investor untuk membandingkan nilai pasar atau harga saham yang mereka bayar per saham dengan ukuran tradisional nilai suatu perusahaan.

Jika PBV sudah sangat besar, investor dinilainya perlu hati-hati. Menurutnya, PBV saham di industri finance dikategorikan rendah jika di bawah 2x.

“Kalau sudah diatas 30x hati-hati. Ini seperti bom waktu,” jelas Satrio.

Iapun sedikit memberi tips buat calon investor maupun yang sudah berinvestasi di pasar modal, agar tidak terjebak di saham tertentu.

Sebelum berinvestasi ia mengungkapkan calon investor perlu tau, bahwa pasar modal memiliki resiko yang tidak hanya bisa kehilangan uang. Bahkan keluarga.

“Oleh sebab itu pertama-tama dia harus tau, ia masuk ke pasar modal untuk sebagai trader atau investor,” ujarnya.

Jika sebagai trader, lanjut Satrio, si pemodal harus pandai memiliki strategi, kapan ia harus masuk atau keluar. Karena, selain bicara technical, banyak trader juga mengandalkan rumor di pasar.

Sementara jika sebagai investor, pemodal dinilainya harus bisa menganalisa sebuah perusahaan dari sisi fundamentalnya. Karena prinsipnya, jika seorang ingin berinvestasi di pasar modal itu jangka panjang.

Pemodal dinilai harus bisa melihat laporan kinerja keuangan perusahaan, lalu membaca bagaimana prospek perusahaan tersebut kedepan bila dilihat dari sisi bisnisnya.
“Jika tidak seperti itu, ia bisa terjerumus dan kalah,”terangnya. (KM)

Check Also

Ingin Fokus Ke Bisnis Inti, PT Intiland Development (DILD) Jual dua Anak Usahanya Rp636 Miliar

EmitenNews.com – PT Intiland Development Tbk (DILD) melepas saham PT Surabaya Jasa Medika (SJM) dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: