#
Ilustrasi pertanian di Kalteng. Pembangunan food estate di Kalimantan Tengah dipastikan tidak akan membuka kembali lahan eks pengembangan lahan gambut (PLG). Pembangunannya dengan intensifikasi lahan pertanian atau mengoptimalkan pemanfaatkan lahan eks PLG dan non eks PLG untuk pangan. (Dok. Borneonews).

Pembangunan Food Estate di Kalteng tidak akan Buka Lahan Eks Pengembangan Lahan Gambut
“Intensifikasi pertanian dilakukan sebagai usaha meningkatkan hasil pertanian dengan mengoptimalkan lahan pertanian yang sudah ada,” kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo

EmitenNews.com – Tekad mewujudkan pembangunan food estate di Kalimantan Tengah dipastikan tidak akan membuka kembali lahan eks pengembangan lahan gambut (PLG). Pembangunan akan dilakukan dengan intensifikasi lahan pertanian atau mengoptimalkan pemanfaatkan lahan eks PLG dan non eks PLG untuk pangan agar meningkatkan indeks pertanaman.

“Intensifikasi pertanian dilakukan sebagai usaha meningkatkan hasil pertanian dengan mengoptimalkan lahan pertanian yang sudah ada,” kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam keterangannya yang dikutip, Jumat (10/7/2020).

Mentan SYL mengemukakan hal tersebut saat mendampingi Presiden Joko Widodo meninjau lokasi food estate di Desa Bentuk Jaya, Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas dan Desa Belanti Siam, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng, Kamis (9/7/2020). Menurut mantan Gubernur Sulawesi Selatan itu, pengoptimalan itu dilakukan dengan penerapan teknologi 4.0, seperti pemberian bibit unggul, pemupukan berimbang, dan penggunaan alat mesin pertanian (alsintan).

“Kegiatan intensifikasi awal tahun 2020 seluas 30.000 hektare, meliputi 20.000 hektare di Kapuas dan sisanya 10.000 hektare di Pulang Pisau. Kami perbaiki varietas, pupuk, dan unsur haranya agar produktivitas 7 ton,” katanya.

Mentan juga memastikan, akan meningkatkan penanganan pascapanen dan mewujudkan pertanian modern agar tidak kalah dengan pertanian di Pulau Jawa. Semua itu sejalan dengan program food estate Kalteng yang berbasis korporasi, yang merupakan investasi terintegrasi dari hulu ke hilir sebagai upaya meningkatkan produksi pangan bagi masyarakat Indonesia.

Dalam rancangan yang ada, pengembangan food estate ini merupakan program dan sinergi seluruh komponen di pemerintah pusat dan daerah dengan dukungan pengawasan serta pembiayaan. Sinergi dimulai dari sistem hulu, on farm, hilir, hingga distribusi pasar untuk meningkatkan kapasitas dan diversifikasi produksi pangan.

Menurut Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Sarwo Edhy, alsintan diperlukan untuk mendukung pembangunan food estate. Alsintan itu, antara lain traktor roda 4 dan 2, pompa air, rice transplatter, hand sprayer, drone tabur benih, dan combine harvester.

“Kementan juga menyiapkan benih sekitar 1.500 ton, dolomit 30.000 ton, pupuk hayati 150.000 ton, urea 6000 ton, NPK 4500 ton, dan pupuk herbisida 120.000 ton,” ujar Sarwo Edhy.

Seperti diketahui food estate salah satu Program Strategis Nasional 2020-2024 yang bertujuan membangun lumbung pangan nasional. Nantinya, food estate akan berada di lahan seluas 165.000 hektar. Food estate menjadi upaya pemerintah mengantisipasi ancaman krisis pangan sebagai dampak pandemi Covid-19. Pembangunannya pun mengintegrasikan pertanian, perkebunan, dan peternakan di satu kawasan.

Presiden Joko Widodo mengemukakan, dalam program food estate ini yang bertanggung jawab pada produksinya adalah Kementerian Pertanian, bersinergi dengan kementerian lainnya. Kepala Negara memastikan, aktivitas di lokasi tidak hanya produksi. BUMN akan bertanggung jawab membangun industri, yakni terlibat dalam pemrosesan hingga pengemasan.

Para petani dan peternak dalam program tersebut akan terkonsolidasi dalam kelompok-kelompok tani dengan terlebih dahulu difasilitasi, baik sarana maupun prasarana serta pendukung lainnya.

Komoditas pangan di food estate nantinya juga akan beragam, tidak hanya padi dan jagung. Sarana produksi dan infrastruktur pertanian juga akan dibangun, seperti embung, irigasi, hingga sarana pascapanen yang modern.

Sebelumnya diketahui Kalteng berhasil mengembangkan Padi Inbrida Varietas Unggul Baru Inpari-42 dan Padi Hibrida SUPADI. Daerah ini juga sukses memproduksi jagung untuk kebutuhan nasional. Pada 2015, produksi jagung mencapai 8.940 ton pipilan kering dan tahun 2019 sebesar 71.000-118.000 ton pipilan kering atau naik hampir 1.000 persen. ***

 

Check Also

Tambahan Kasus Virus Corona di Indonesia Senin Ini Hanya 3.222 Penderita
Masyarakat diimbau tetap di rumah. Tetapi, kalau terpaksa harus keluar rumah, harap diingat untuk selalu menjaga jarak aman. Tetap memakai masker seperti direkomendasikan pemerintah

EmitenNews.com – Tambahan kasus harian virus corona penyebab coronavirus disease 2019 (covid-19), di Indonesia hari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: