#

Pemutusan Kerja Sama, Sriwijaya Berutang Rp800 Miliar Pada Anak Usaha Garuda Indonesia Tbk (GIAA)

EmitenNews.com – Maskapai Sriwijaya Air tetap beroperasi meskipun direkomendasikan berhenti setelah anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang bergerak dibidang perawatan pesawat, GMF Aero Asia menghentikan layanannya kepada Sriwijaya Air sejak 25 September 2019.

Sehingga, Sriwijaya Air dianggap tidak memenuhi standar keamanannya. Alasan penghentian layanan lantaran pihak Sriwijaya telah menunggak pembayaran hingga Rp800 miliar.

“GMF Aero Asia putus sejak tanggal 25 September 2019. Karena out standing tunggakannya besar walaupun sudah dicicil. Jumlahnya hampir Rp800 miliar,” kata Direktur Operasi Capt. Fadjar Semiarto di Kopi Oey, Jakarta, Senin (30/9).

Semenjak kerjasama dengan GMF Aero Asia terputus, Sriwijaya Air pun melakukan line maintenance sendiri dengan metode engineer on board (EOB) dengan jumlah 50 orang, yang terdiri dari 20 orang certifying staff, 25 orang RII dan certifying staff dan 5 orang management and control. Personel tersebut terbagi dalam 4 grup.

Selain itu, Sriwijaya Air pun juga melakukan kerjasama line maintenance dengan PT JAS Engineering sebagai pemegang AMO 145 pada 3 hari sejak 24 September 2019.

Disamping itu, Sriwijaya Air juga melakukan kerjasama brake and wheel dengan PT Muladatu dan PT JAS Engineering sebagai pemegang AMO 145.

Menurutnya, dengan kondisi minim persiapan maintenance pesawat, operasional Sriwijaya Air sangat berbahaya. Sebab pesawat bisa kapanpun terkendala dan harus berhenti.

“Setiap operasional penerbangan pasti berisiko. Tapi risikonya kalau kendaraan darat bisa berhenti sewaktu-waktu. Tapi kan pesawat tidak bisa seperti itu. Semua ada standarisasinya,” tuturnya.

Sementara, Direktur Teknik Romdhani Ardali Adang menambahkan, risiko yang kemungkinan terjadi disebabkan oleh kesalahan manusia taun human eror. Sebab saat ini mekanik dan perawatan pesawat bekerja 12 jam dengan tingkat kelelahan yang tinggi.

“Kalau selama 12 jam libur 2 hari itu kan sebenarnya masih boleh. Tapi jangan biarkan mereka stres. Bisa saja salah handle pesawat, human eror-nya tinggi sekali. Bisa terjadi masalah ringan, kalau itu pesawat bisa balik lagi ke bandara. Tapi kalau misalnya karena lelah dia lupa taruh obeng di mesin, itu bahaya bisa terganggu,” terangnya.

Dengan rekomendasi yang tidak digubris, akhirnya Fadjar dan Romdhani memutuskan untuk mengundurkan diri. (Romys)

Check Also

Lippo Grup Bantah Rumor Keluar Dari OVO

EmitenNews.com – Lippo Group membantah terkait berita miring atau rumor yang mengabarkan bahwa Lippo Group …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: