#
Pengelola Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta perlu belajar bagaimana PT Kereta Api Indonesia, melalui anak usahanya PT Kereta Commuter Jabodetabek menarik minat penumpang. (Dok. Tagar News).

Pengelola MRT Jakarta Perlu Belajar Menarik Minat Penumpang pada Kereta Commuter Line
Tarif Moda Raya Terpadu Rp14 ribu dari Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia dan sebaliknya dianggap kurang kompetitif

EmitenNews.com – Pengelola Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta perlu belajar bagaimana PT Kereta Api Indonesia, melalui anak usahanya PT Kereta Commuter Jabodetabek menarik minat penumpang. Commuter Line tak hanya mengandalkan tarif murah, lingkungan stasiun tertutup, bersih, dan kereta lebih nyaman, pelayanan bagus, juga diterapkan sehingga memikat konsumen.

Kepada pers, Rabu (3/4/2019), pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, dengan layanan bagus, perlahan tarif dinaikkan masyarakat pemakai KRL tak berkeberatan. Pangsanya pun terus bertambah. Setelah enam tahun beroperasi, rata-rata sehari KRL bisa mengangkut 1,1 juta penumpang.

Djoko menyoroti MRT Jakarta, yang beroperasi secara komersial mulai Senin (1/4/2019), dianggap kurang efektif menarik minat masyarakat untuk berpindah moda transportasi. Meski menjanjikan perjalanan dalam waktu singkat dan bebas macet, namun tarif Mass Rapid Transit itu, kurang kompetitif. Untuk perjalanan terjauhnya dari Lebak Bulus ke Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan sebaliknya, tarifnya Rp14.000.

Dengan tarif sebesar itu, penumpang MRT Jakarta masih tetap kelas menengah ke atas. Selain itu, yang diuntungkan, mereka yang sehari-harinya memang melewati jalur Lebak Bulus hingga Bundaran HI. Untuk jurusan lainnya harus transit di halte tujuan, dan berpindah moda transportasi, seperti TransJakarta atau ojek online. Untuk itu, harus merogoh kocek lagi.

Dengan mempertimbangkan biaya, bagi yang sudah memakai Bus Transjakarta tidak perlu beralih ke MRT Jakarta. Tidak ada gunanya jadinya. Dengan tarif MRT saat ini, kemungkinan masyarakat kelas menengah ke bawah tetap menggunakan Transjakarta yang bertarif Rp 3.500. Ke depan, Pemprov DKI Jakarta perlu menerapkan kartu khusus bagi warga kurang mampu supaya mereka bisa naik MRT Jakarta.

Tantangan MRT bagaimana mengubah kebiasaan pengguna kendaraan pribadi beralih ke kendaraan umum, bakal gagal. Sebab, MRT dianggap kurang menarik minat warga yang terbiasa berkendaraan pribadi. Hitungannya, pengeluaran bensin harian, masih lebih murah ketimbang naik MRT.

MRT memang menawarkan kenyamanan dan kecepatan, yang tentunya berbeda dengan menggunakan kendaraan pribadi. Namun, diperkirakan persentase perpindahan dari angkutan pribadi ke MRT belum signifikan, apalagi rute yang beroperasi masih terbatas. Alasan lainnya, ketersediaan transportasi umum tidak sampai tempat tinggal sehingga banyak yang memilih tetap menggunakan kendaraan pribadi.

Jika perpindahan menggunakan kendaraan pribadi ke kendaraan umum tidak kunjung terjadi, perlu pembatasan mobilitas kendaraan pribadi sepanjang Bundaran HI hingga Lebak Bulus. Karena menurut Djoko, MRT Jakarta perlu daya tarik. Persiapan integrasi antarmoda, integrasi tarif, dan pembatasan kendaraan pribadi harus dilakukan.

Menurut Djoko, MRT kurang efektif jika ditujukan untuk mengurangi kemacetan Jakarta. Paling tidak hanya bisa mengurangi kemacetan di jalan-jalan sepanjang lintasan MRT Jakarta. ***

 

Check Also

Ketua Umum Apindo Khawatirkan Menurunnya Daya Beli Masyarakat
Hariyadi Sukamdani: Kalau impor turun secara keseluruhan apalagi impor bahan bakunya, berarti memang ada perlambatan pertumbuhan ekonomi

EmitenNews.com – Daya beli masyarakat menurun. Itu yang dilihat Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *