#
Eks Komisioner KPU, Wahyu Setiawan. (Dok. Ayo Semarang).

Siapa ya Penyandang Dana Kasus Suap Kader PDIP untuk eks Komisioner KPU Wahyu Setiawan
Soal funder atau sponsor itu, mengemuka dalam sidang kasus suap Wahyu Setiawan, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (2/7/2020). Polisi masih mengejar Harun Masiku yang kini jadi buronan

EmitenNews.com – Siapa ya penyandang dana kasus suap kader PDI Perjuangan Harun Masiku terhadap (mantan) Komisioner KPU Wahyu Setiawan. Soal funder atau sponsor itu, mengemuka dalam sidang kasus suap Wahyu Setiawan, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (2/7/2020). Polisi masih mengejar Harun Masiku yang kini jadi buronan.

Dalam persidangan seperti ditulis Antara, jaksa penuntut umum (JPU) KPK Ronald Worotikan mempertanyakan kepada saksi Donny Tri Istiqomah tentang keterangan saksi di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) No 35; “Saudara mengatakan pada 6 Desember 2019 Saeful menanyakan ke saudara ini untuk bertemu di Hyatt dengan Harun dan ‘funder’, Saeful bertanya ‘bagaimana sudah jadi belum suratnya, Wahyu minta DP 300, kita minta 500 dulu ke Harun’, apa masudnya?

Donny yang bersaksi untuk eks anggota KPU Wahyu Setiawan dan kader PDI Perjuangan Agustiani Tio Fridelina menjelaskan, kaitannya karena Saeful Bahri menagih surat dari DPP untuk KPU (soal permohonan pelaksanaan putusan MA): “Saya diminta antar surat itu ke Harun, kalau ‘funder’ saya kurang paham, mungkin di bayangan saya ‘funder’ itu yang bantu Saeful bantu teknis tapi siapa ‘funder’ dan apa sesungguhnya saya tidak tahu.”

Wahyu dan Agustiani didakwa menerima suap Rp600 juta dari kader PDIP Harun Masiku agar mengupayakan Pergantian Antar Waktu (PAW) anggota DPR RI dari Riezky Aprilia sebagai anggota DPR RI daerah pemilihan (dapil) Sumatera Selatan (Sumsel) 1 kepada Harun Masiku. Wahyu juga didakwa menerima suap Rp500 juta dari Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan.

Dalam dakwaan disebutkan berdasarkan keputusan rapat pleno DPP PDIP, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto meminta Donny Tri Istiqomah penasihat hukum PDIP untuk mengajukan surat permohonan ke KPU RI. Isinya, agar Harun Masiku yang mendapat suara 5.878 dijadikan sebagai caleg pengganti terpilih yang menerima pelimpahan suara dari Nazaruddin Kiemas yang telah meninggal dunia.

Padahal KPU sudah menetapkan caleg PDIP lainnya yaitu Riezky Aprilia sebagai anggota DPR RI, untuk PAW Nazaruddin Kiemas. Harun Masiku lalu meminta kader PDIP Saeful Bahri untuk membantunya agar dapat menjadi anggota DPR menggatikan Riezky dengan capa apapun yang kemudian disanggupi Saeful.

“WY minta 300, kita minta Harun 500 itu bagaimana?” tanya jaksa Ronald.

“Saeful mengatakan WY itu saya yakin Pak Wahyu minta Rp300 juta,” jawab Donny.

Donny menemui Saeful di hotel Grand Hyatt Jakarta sekitar pukul 17.00 WIB. Saeful tidak sendirian di sana tapi bersama 3 orang lainnya. Saat ke lokasi, ia menyatakan, sudah ada 4 orang. Jadi, berlima dengan Donny. Empat lainnya,  Saeful dan tiga temannya.

“Saya tidak melihat Pak Harun Masiku. Saya presentasi mengenai proses penggantian anggota parlemen, tapi tidak jadi ketemu Pak Harun,” ungkap Donny.

Jaksa Ronald meminta Donny mengingat-ingat lagi, karena sebelumnya Saeful dalam perisdangan pengatakan ada pertemuan antara Saeful, Donny, dan Harun Masiku.

Donny memastikan, tidak ada Harun di hotel Grand Hyatt Jakarta saat itu. Ia kembali menegaskan, hanya ada dirinya, dengan Saeful dengan 3 orang lainnya. Donny mengaku melakukan presentasi sekitar 30 menit kemudian kembali lagi ke kantor PDIP. “Saya tidak tanya lagi di mana Pak Harun karena saya ke Hyatt cuma disuruh menerangkan dan antar surat.”

Seperti diketahui dalam dakwaan Wahyu disebutkan Saeful bersama Donny Tri Istiqomah menemui Harun Masiku di Restoran di Hotel Grand Hyatt Jakarta pada 13 Desember 2019. Di situ disepakati biaya operasional untuk Wahyu adalah sebesar Rp1,5 miliar dengan harapan Harun dapat dilantik sebagai anggota DPR, pada Januari 2020.

Uang diserahkan pada 17 Desember 2019 dari Harun Masiku kepada Saeful sebesar Rp400 juta. Selanjutnya ditukarkan menjadi 20 ribu dolar Singapura untuk diberikan kepada Wahyu sebagai down payment. Uang muka itu diberikan melalui rekan Wahyu, Agustiani Tio Fridelina. Sisa uang dari Harun dibagi rata Saeful dan Donny masing-masing Rp100 juta.

Pada 26 Desember 2019, Harun Masiku kembali meminta Saeful mengambil uang Rp850 juta. Dari jumlah tersebut, Rp400 juta ditukarkan menjadi 38.500 dolar Singapura untuk diberikan sebagai DP II bagi Wahyu. Sisanya Rp170 juta diberikan kepada Donny Tri dan sisanya untuk operasional Saeful.

Dalam perkara ini, Saeful Bahri sudah divonis 1 tahun dan 8 bulan penjara ditambah denda Rp 150 juta subsider 4 bulan kurungan sedangkan Harun Masiku masih berstatus buron. Di tengah isu sang buronan sudah tewas, pihak berwenang terus melakukan pencarian. ***

 

Check Also

Pakar Hukum dari Trisakti anggap Polisi Lebay Tetapkan Tersangka Penyebar Hoaks UU Ciptaker
"Karena berita aslinya belum jelas, tidak ada yang disebut berita bohong. Lebay. Ya tidak ada tindak pidananya. Tidak ada sifat melawan hukumnya," kata Abdul Fickar Hadjar

EmitenNews.com – Polisi dituding lebay. Itu kritik pakar hukum pidana dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: