#

Terpapar Virus Corona, Pendiri PKS Hilmi Aminuddin Meninggal Dunia
Tahun 1978 lulus dari Fakultas Syariah Universitas Islam di Madinah, ia kembali ke Indonesia berdakwah dari masjid ke masjid, atau dari satu kelompok pengajian ke kelompok pengajian lainnya

EmitenNews.com – Hilmi Aminuddin berpulang ke Rahmatullah. Pendiri sekaligus mantan Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu tutup usia, Selasa (30/6/2020), pukul 14.24 WIB, dalam usia 72 tahun. Ia meninggal di rumah sakit Santosa Bandung, Jawa Barat, setelah dikabarkan terpapar virus corona penyebab coronavirus disease 2019 atau covid-19.

Kepada pers, anggota Fraksi PKS DPRD Jabar, Abdul Hadi Wijaya, mengaku juga mendapat berita meninggalnya seniornya itu karena terpapar covid-19. Karena itu, urusan pemakaman dilakukan‎ sesuai protokol penanganan covid-19. Jenazah dikebumikan di Desa Pagerwangi, Kabupaten Bandung Barat tak jauh dari Padepokan Madani.

Hal itu disampaikan dalam keterangan resmi Wildan Hakim mewakili pihak keluarga dan Haru Suandharu, Ketua Umum DPW PKS Jawa Barat. Keterangan itu disampaikan anggota DPRD Jabar dari Fraksi PKS Abdul Hadi Wijaya lewat pesan singkat, Selasa (30/6/2020).

Pemakaman dilakukan sesuai protokol kesehatan di masa pandemi covid-19. Untuk itu, kepada seluruh kader dan simpatisan PKS Jawa Barat, diminta mendoakan almarhum dari tempat masing-masing, dan melaksanakan shalat Ghaib, juga di tempat masing-masing.

Catatan yang ada menunjukkan, Hilmi Aminuddin pendiri gerakan dakwah, atau pada era 1980 sampai 1990-an dikenal sebagai harakah tarbiyah. Hilmi  adalah putra Danu Muhammad Hasan, satu dari tiga tokoh penting Darul Islam/Tentara Islam Indonesia pimpinan Kartosoewirjo.

Hilmi memulai pendidikannya di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, pada usia 6 tahun. Dari sana, dia lalu memperdalam ilmu ke sejumlah pesantren di Jawa. Tahun 1973, Hilmi memutuskan ke Arab Saudi, belajar di Fakultas Syariah Universitas Islam di Madinah.

Selama menuntut ilmu di universitas tersebut, Hilmi kerap berkumpul dengan Yusuf Supendi, tokoh perintis PKS lainnya, yang berkuliah di Universitas Imam Muhammad Ibnu Saud, Riyadh. Lulus kuliah tahun 1978, Hilmi pulang ke Indonesia, dan memulai kariernya dengan berdakwah.

Tidak seperti kebanyakan ulama di Indonesia saat itu, yang memiliki pondok pesantren, Hilmi kemudian berdakwah dari masjid ke masjid, atau dari satu kelompok pengajian ke kelompok pengajian lainnya.

Tahun 1998, Hilmi bersama beberapa rekan mendirikan Partai Keadilan. Karena tak lolos ambang batas parlemen, pada tahun 2002, PK berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera agar bisa ikut pemilihan umum berikutnya. Dalam pemilu ini PKS hanya mendapatkan 7 kursi di parlemen, atau 1.5 persen.

Tahun 2005, Hilmi ditunjuk menjadi Musyawarah Majelis Syuro I, lembaga tertinggi di PKS. Ia menggantikan Rahmat Abdullah yang meninggal dunia. Saat itu, Hilmi terpilih melalui mekanisme voting tertutup dengan mendapatkan 29 suara dari 50 anggota Majelis Syuro. Dia mengungguli tiga calon lainnya; Salim Segaf Al-Jufri (12 suara), Surahman Hidayat (8) dan Abdul Hasib Hasan (1).

Pada 2010, Hilmi kembali terpilih menjadi ketua Majelis Syuro dalam Pemilihan Raya (Pemira) Majelis Syuro PKS. Mekanisme Pemira untuk memilih anggota majelis syuro yang baru ini selayaknya pemilu. Jumlah anggota MS yang dipilih ada 99 orang. ***

 

Check Also

Survei Pandemi Covid-19, Masyarakat Kesulitan Penuhi Kebutuhan Makan Sehari-hari
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi: September, kepuasan publik terhadap pemerintah pusat meningkat dibanding Mei, 66 persen sangat puas atau cukup puas

EmitenNews.com – Pandemi virus corona penyebab coronavirus disease 2019 (covid-19) menyebabkan pendapatan sebagian besar masyarakat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: