#
Maria Pauline Lumowa. (Dok. Kemenkumham).

Tunggu Penasehat Hukum dari Belanda, Pemeriksaan Pembobol BNI Maria Lumowa Dihentikan Sementara
Polisi menjerat Maria dengan Pasal tentang Tipikor dengan ancaman pidana seumur hidup. Juga Pasal tentang tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang akan dibuat dalam laporan polisi tersendiri

EmitenNews.com – Minta penasehat hukum dari Belanda, pemeriksaan terhadap tersangka kasus pembobolan Bank BNI Maria Pauline Lumowa dihentikan sementara. Bareskrim Polri menghentikan sementara pemeriksaan karena Maria meminta pendampingan hukum dari Kedutaan Besar Belanda. Polisi kebut pemeriksaan Maria sebelum masa kadaluwarsa Oktober 2021.

“Yang bersangkutan meminta pendampingan dari penasehat hukum, khususnya yang rencananya akan disediakan oleh Kedutaan Besar Belanda. Karena memang belum ada (penasehat hukum), sehingga penyidikan dihentikan. Ini menjadi hak tersangka. Kami sangat menghormati,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Awi Setiyono, di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (13/7/2020).

Terlahir di Sulawesi Utara, Maria telah menjadi warga negara Belanda sejak tahun 1979. Karena itu, untuk menyelesaikan perkara yang menjeratnya, ia meminta penasehat dari Kedubes Belanda untuk mendampinginya.

Bareskrim telah mengirim surat kepada Kedubes Belanda tentang penahanan Maria. Awi menuturkan, pihaknya masih menunggu jawaban resmi dari pihak Kedubes Belanda. “Kami bersurat dengan resmi, tentunya kita juga menunggu jawaban resmi.”

Sejauh ini, polisi telah memeriksa sebanyak 12 orang saksi yang terdiri atas terpidana kasus ini maupun pihak BNI. Penyidik Bareskrim menargetkan penyidikan perkara Maria dapat segera selesai, mengingat masa kedaluwarsa kasus tersebut Oktober 2021.

Polisi menjerat Maria dengan Pasal 2 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tipikor dengan ancaman pidana seumur hidup. Apabila mengacu pada Pasal 78 ayat (1) angka 4 KUHP, kejahatan dengan ancaman pidana mati atau penjara seumur hidup kedaluwarsa setelah 18 tahun.

Penyidik juga berencana menerapkan Pasal 3 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang TPPU yang akan dibuat dalam laporan polisi tersendiri.

Seperti diketahui, Maria salah satu tersangka pelaku pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru senilai Rp1,7 triliun lewat Letter of Credit (L/C) fiktif pada 2002. Kasusnya terbongkar setahun kemudian. Sayangnya, saat kasusnya diperiksa, Maria sudah lebih dahulu terbang ke Singapura, September 2003, sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus Mabes Polri.

Setelah 17 tahun berlalu, Maria diekstradisi ke Indonesia dari Serbia. Buron kasus pembobolan Bank BNI ini, tiba di Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Cengkareng, Banten, Kamis (9/7/2020), pukul 10.40 WIB.

Ekstradisi tersebut tak lepas dari asas timbal balik resiprositas karena sebelumnya Indonesia mengabulkan permintaan Serbia untuk memulangkan pelaku pencurian data nasabah Nikolo Iliev pada 2015. Hasilnya, Maria dapat menjalani proses hukum di Indonesia meskipun kedua negara tidak memiliki perjanjian ekstradisi.

Kasus pembobolan Bank BNI inia berawal pada Oktober 2002 hingga Juli 2003. Ketika itu Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai USD136 juta dan 56 juta Euro. Dana setara dengan Rp1,7 triliun dengan kurs saat itu dikucurkan untuk PT Gramarindo Group milik Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari orang dalam. Pasalnya, manajemen BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp yang bukan bank korespondensi Bank BNI.

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor. Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri. ***

 

Check Also

Irjen Napoleon Bonaparte Bantah Keras Tudingan Terima Rp7 Miliar dari Djoko Tjandra
Kuasa hukum Napoleon, Gunawan Raka: alat bukti hanya rentetan tanda perihal Rp7 miliar itu. Uangnya tidak ada, hanya tanda terima dari Djoko Tjandra kepada Tommy Sumardi

EmitenNews.com – Irjen Pol. Napoleon Bonaparte membantah keras tuduhan telah menerima Rp7 miliar dari terpidana …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: