EmitenNews.com — Konflik geopolitik Rusia dan Ukraina terus mendorong kenaikan harga komoditas, terutama harga energi, yang sempat menyentuh kisaran USD 120 per barel. Sanksi embargo atau larangan impor minyak dari Rusia membuat berkurangnya persediaan minyak global, di tengah kenaikan permintaan seiring pembukaan kembali perekonomian. 

 

Risiko inflasi menjadi salah satu hal yang dicermati oleh para pelaku pasar. Inflasi tinggi yang berkepanjangan dikhawatirkan dapat mendorong ekonomi ke jurang stagflasi, yakni kondisi ekonomi dimana inflasi tinggi, pertumbuhan ekonomi rendah dan angka pengangguran tinggi.

 

Juky Mariska Wealth Management Head, Bank OCBC NISP dalam risetnya yang diterima EmitenNews.com Kamis (21/4/2022) menyampaikan, kenaikan inflasi ini meningkatkan kekhawatiran terjadinya resesi di masa depan. Kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun, US Treasury mengalami inversi di awal April 2022, dimana imbal hasil obligasi tenor pendek lebih tinggi dibandingkan tenor panjang, yang mensinyalkan potensi perlambatan ekonomi di masa depan. Akan tetapi, adanya reopening economy diperkirakan akan menjaga tingkat permintaan tetap tinggi, sehingga dapat menghindarkan ekonomi dari potensi stagflasi ataupun resesi.

 

Dari dalam negeri, pemerintah menilai pemulihan ekonomi domestik mulai berjalan, walaupun pandemi COVID-19 belum selesai. Hal ini terlihat dari inflasi bulan Maret yang tercatat meningkat 2.64% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Indikator makro lainnya pun mencatatkan kinerja yang positif. Seperti halnya di sektor manufaktur yang hingga saat ini masih berada pada level 51.3, mencerminkan sektor manufaktur berjalan di level ekspansif. Demikian pula dengan neraca perdagangan internasional di bulan Maret mengalami surplus USD 3.8 miliar meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang mengalami surplus USD 1.7 miliar.

 

Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mencatatkan kinerja positif sepanjang bulan Maret, atau menguat 2.66%, serta berhasil tembus level psikologis 7,000 di akhir bulan Maret 2022. Penguatan pasar saham sepanjang bulan Maret didorong aksi beli investor asing lebih dari Rp 10 triliun, seiring optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi domestik. Keberhasilan pemerintah dalam mengendalikan kasus COVID-19 di tanah air juga diapresiasi oleh investor, setelah berhasil menekan hingga 90%, dari jumlah kasus harian tertinggi di pertengahan Februari lalu. Ke depannya potensi penguatan pasar saham masih sangat terbuka, dengan perkiraan pertumbuhan laba perusahaan dikisaran 15-20%, sehingga IHSG diperkirakan akan berada dikisaran 7,200 – 7,500 hingga akhir tahun 2022.

 

Pasar obligasi kembali mencatatkan penurunan di bulan Februari ini dengan imbal hasil 10 tahun ditutup meningkat sebesar 1.18% dari sebelumnya berada di level 6.44% ke level 6.52%. Kenaikan imbal hasil obligasi domestik ini dipengaruhi oleh naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS, US Treasury ke level tertinggi sejak pandemi, di atas 2 persen. Pergerakan pasar obligasi melanjutkan fase pelemahannya di bulan Maret, tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun ke level 6.73% di akhir bulan Maret, dari sebelumnya di kisaran 6.51% di awal bulan. 

 

Adanya kenaikan imbal hasil ini berarti terjadi penurunan pada harga obligasi. Investor asing tercatat melakukan jual bersih sebanyak Rp 43 triliun sehingga kepemilikan asing turun menjadi 17.5% di akhir bulan Maret. Tekanan pada pasar obligasi domestik dipengaruhi dari kenaikan imbal hasil US Treasury, seiring rencana kenaikan suku bunga bank sentral Fed yang lebih agresif dalam rangka mengimbangi kenaikan inflasi ke level tertinggi dalam empat puluh tahun terakhir. Namun demikian, pasar obligasi domestik masih tetap menarik dengan rencana penerbitan obligasi yang lebih rendah, serta skema burden sharing dengan Bank Indonesia yang masih berlanjut hingga tahun 2022, sehingga akan menstabilkan supply obligasi di pasaran.

 

Mata uang Rupiah relatif stabil diperdagangkan di kisaran Rp 14,300 sepanjang bulan Maret. Investor terlihat telah mengantisipasi rencana kenaikan tingkat suku bunga acuan Fed sebanyak 25 bps, sehingga tidak memberikan tekanan berarti terhadap pergerakan mata uang Rupiah. Bank Indonesia juga terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dengan menerapkan beberapa kebijakan, diantaranya kebijakan B20 untuk mengurangi ketergantungan impor minyak, menaikan tarif PPh Impor, sampai dengan mendorong jumlah wisatawan asing sehingga dapat menambah cadangan devisa. Nilai tukar Rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran 14,300 hingga 14,450 dalam jangka pendek.