EmitenNews.com - Singaraja Putra (SINI) mencaplok Kemilau Mulia Sakti (KMS) Rp1,73 triliun. Nilai pembelian anak usaha Petrosea (PTRO) itu, setara 110,26 persen dari total aset SINI. Kondisi itu, menjadi sorotan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk sekadar mengulik lebih jauh latar transaksi tersebut.

Manajemen emiten Grup Hapsoro tersebut mengklaim pengambilalihan KMS sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha, dan peningkatan investasi pada sektor pertambangan batu bara dengan prospek pertumbuhan jangka menengah positif. Permintaan batu bara global diperkirakan masih terjaga, terutama dari negara-negara Asia seperti Tiongkok, dan India.

Selain itu, berdasar RUPTL 2025-2034, kebutuhan tenaga listrik nasional diproyeksi tumbuh rata-rata sekitar 5,3 persen per tahun, sehingga batu bara diperkirakan berperan penting dalam mendukung pasokan energi nasional dalam jangka menengah. Akuisisi itu, diharap memperluas cakupan usaha, memperkuat portofolio investasi sektor pertambangan batu bara, meningkatkan kontribusi pendapatan, dan laba perseroan.

Secara umum, akuisisi KMS berpotensi memberikan dampak positif terhadap usaha pertambangan batu bara Perseroan melalui peningkatan aset, cadangan, kapasitas produksi, dan pertumbuhan laba. Selanjutnya, target volume produksi tahunan pada konsesi melalui KMS akan meningkat secara bertahap, yaitu sekitar 1 juta ton per tahun pada tahap awal.

Kemudian meningkat menjadi 3.6 juta ton per tahun, hingga mencapai kapasitas produksi optimal sekitar 5 juta ton per tahun, dengan mempertimbangkan perkembangan infrastruktur, kondisi operasional, dan kondisi pasar. Berdasar rencana produksi itu, dan estimasi cadangan, masa tambang (Life of Mine) diperkirakan berlangsung hingga sekitar 2038.

Estimasi tersebut dapat berubah sesuai dengan rencana penambangan, maupun faktor operasional, dan regulasi berlaku. Keberadaan KMS diharapkan menjadi salah satu sumber pertumbuhan produksi perseroan ke depan. Seiring peningkatan kapasitas produksi dari KMS, SINI mematok volume penjualan batu bara konsolidasian meningkat secara bertahap dibandingkan realisasi tahun 2025 sebesar 203.057 metrik ton (MT).

Peningkatan itu, akan disesuaikan dengan kesiapan infrastruktur, kondisi operasional, dan permintaan pasar sehingga dapat dicapai secara berkelanjutan. Target pendapatan KMS USD52 juta pada 2026, dan USD158,97 juta pada 2027 dengan kontribusi pendapatan mencapai 21,40 persen, dan 27,06 persen bagi perseroan pada 2026 dan 2027.

Pendeknya, akuisisi tersebut berpotensi membuat kontrak jasa pertambangan jangka panjang lebih kompetitif untuk seluruh entitas perseroan. Karena dengan adanya sinergi operasional, perseroan berpotensi meningkatkan efisiensi biaya, optimalisasi penggunaan alat, sumber daya, dan memperkuat koordinasi pelaksanaan operasional. (*)