EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk kala penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026). Indeks mendadak terpeleset 2,86 persen atau turun 204,92 poin ke level 6.969,40, sekaligus menjadi level terendah sepanjang perdagangan.

Merujuk data IDX Mobile, adanya tekanan jual yang masih membuat 607 saham berguguran, dan menyisakan 138 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Adapun total nilai transaksi harian melonjak cukup tinggi yakni mencapai Rp36,07 triliun dengan volume perdagangan sebesar 54,39 miliar saham.

Pelemahan IHSG dipicu rontoknya hampir seluruh indeks sektoral, di mana sektor IDX BASIC memimpin kejatuhan dengan koreksi mencapai 7,80 persen. Di sisi lain, hanya sektor IDXHEALTH yang menjadi satu-satunya menguat tipis 0,70 persen.

Di tengah masifnya aksi jual pasar domestik, investor asing justru terpantau melakukan aksi net buy atau beli bersih dengan nilai mencapai Rp19,5 triliun, jauh di atas aksi jualnya sebesar Rp8,14 triliun. Sebaliknya, investor domestik justru lebih banyak melakukan aksi jual dengan nilai mencapai Rp27,9 triliun, sedangkan aksi beli hanya mencapai Rp16,5 triliun.

Sejumlah saham yang masuk jajaran top gainers di antaranya, MPOW, MEDS, IRRA, PEHA, dan KAEF. Sedangkan jajaran top losers dihuni oleh ESIP, ELPI, DSSA, MINA, dan NIKL.

Prediksi IHSG Pekan Depan, Cenderung Sideways

Investment Gallery Coordinator Sucor Sekuritas, Yoser A. Triastomo menilai cukup banyak faktor yang mempengaruhi kejatuhan IHSG di level 6.969, mulai dari domestik maupun global. Di antaranya, kondisi fiskal menjadi sentimen negatif yang sulit dibendung sehingga menyebabkan outflow dan meningkatkan currency exchange risk.

Saat ini pemerintah tengah menyiapkan beberapa intervensi untuk mengontrol ruang fiskal dan bank Indonesia dari sisi moneter untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat mencapai level tertinggi di Rp17.447 per USD.

“Namun, tentu saja efek dari intervensi adalah faktor utama untuk saat ini yang dapat merubah outlook investor dalam menilai Risk to Reward Market Indonesia,” ujar Yoser kepada emitennews, Sabtu (9/5/2026).

Di sisi lain Yoser juga menilai, tekanan pada market perlahan mereda seiring pemerintah menetapkan yield obligasi pemerintah 10 tahun yang menurun 6,76 persen dari 6,85 persen per 7 Mei 2026.