AS-Iran Memanas, IHSG Konsisten Menguat
:
0
Indeks harga saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada perdagangan sesi 2, Jumat 26 Juni 2026. Photo/Rizki EmitenNews.com
EmitenNews.com - Perdagangan pertama September 2026, indeks bursa Wall street kembali ditutup melemah. Itu dipicu ledakan kekhawatiran investor terhadap peluang peningkatan suku bunga acuan oleh The Fed. Maklum, kekhawatiran terhadap inflasi, dan lonjakan harga minyak mentah mendorong imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), dan global terus bergerak naik.
Harga minyak mentah kembali mencatat penguatan signifikan setelah pusat komando pasukan militer AS mengatakan telah menyerang target berkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Strang AS itu, setelah Iran menyerang kapal, dan personel militer AS di Selat Hormuz.
Minyak mentah jenis WTI melonjak 5,2 persen menjadi USD90,22 per barel, dan Brent 4,6 persen menjadi USD94,65 per barel. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun AS, Jepang, dan Jerman masing-masing kompak mencatat rekor tertinggi sejak Januari 2025, Agustus 1996, dan 2011.
Perosotan indeks bursa Wall Street diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Sementara itu, lonjakan harga komoditas energi, dan aksi beli investor asing berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat.
Sepanjang perdagangan hari ini, Rabu, 2 September 2026, IHSG akan menyusuri kisaran support 6.535-6.470, dan resistance 6.665-6.730. menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham LSIP, SIMP, MEDC, BMRI, BBCA, dan BUMI. (*)
Related News
Intip Kinerja MDLA, Saham yang Diborong Tersangka Korupsi BNPB
Proyeksi IHSG Pekan Depan Usai Badai MSCI, Rawan Koreksi ke 4.880
Bursa Saham Korban Terbaru MSCI Ini Hancur-hancuran
IHSG Jebol 14,91 Persen, Saatnya Investor Serok? Cek Ini Dulu
AI Tiru Suara Artis, Serikat Aktor Jepang Rilis Aturan
Imbas Shifting Konsumsi, Stok Pertalite Menipis





