EmitenNews.com - Pasar saham Indonesia awal September ini diperkirakan melanjutkan proses penguatan, setelah Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pada perdagangan akhir pekan kemarin mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan sebesar 0,63 persen ke level 6.328. Analis PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah mengatakan, secara teknikal, laju IHSG bergerak menguji resistance Moving Average 50-Day (MA-50) dengan indikator Stochastic mulai bergerak di area jenuh beli (overbought). Menurutnya, pergerakan IHSG akan mengarah ke level resistance 6.400 dengan potensi breakout resistance MA-50 dalam waktu dekat. "Sehingga, kami memproyeksikan IHSG bergerak menguat di awal pekan pada rentang 6.278-6.350," ujar Lanjar, Senin (2/9). Lebih lanjut Lanjar menyebutkan, pada perdagangan akhir pekan kemarin mayoritas bursa saham Asia ditutup menguat, tercermin dari kenaikan indeks Nikkei (+1,19 persen), Topix (+1,46 persen), Hang Seng (+0,08 persen) dan Shanghai (+0,25 persen). Sementara itu, IHSG ditutup menguat 0,63 persen ke level 6.328, seiring dengan kenaikan indeks sektor aneka industri (+3,36 persen) dan Properti (+1,59 persen), sedangkan indeks sektor konsumer melemah 0,82 persen. Di tengah peluang kenaikan lanjutan pada laju IHSG hari ini, Lanjar merekomendasikan 12 saham yang bisa dimainkan pelaku pasar, yakni: 1. PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) 2. PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) 3. PT Wika Beton Tbk (WTON) 4. PT Gudang Garam Tbk (GGRM) 5. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) 6. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) 7. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 8. PT Jasa Marga Tbk (JSMR) 9. PT Astra International Tbk (ASII) 10. PT Waskita Karya Tbk (WSKT) 11. PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) 12. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA). (Romys)
Related News
Di Balik Angka Laba Cimory di Tahun 2025 Part 2, Ini Strategi Salesnya
Cerita Di Balik Angka Laba Cimory di Tahun 2025 Part 1
Program Susu Sekolah MBG jadi Katalisator Ultrajaya Tekan Biaya Iklan
Efek Hormuz dan Prospek Fiskal, Bagaimana Nasib Market Ke Depan?
Transparansi 1 Persen - Titik Buta Pengawasan Pasar: Studi Kasus TPIA
Memaknai Rating Outlook Negatif Fitch dan Moody's untuk Indonesia





