EmitenNews.com - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menilai program biodiesel B50 berpotensi mengubah peta pasokan minyak sawit Indonesia pada 2027. Saat kebutuhan bahan bakar nabati meningkat, volume minyak sawit untuk pasar ekspor diperkirakan menyusut, terutama jika produksi dalam negeri ikut tertekan akibat fenomena El Nino.

Dalam perkiraan Gapki ekspor minyak sawit Indonesia pada 2027 hanya mencapai 26,5 juta ton, turun dari proyeksi 31 juta ton pada 2026. Itu berarti volume ekspor berpotensi berkurang sekitar 4,5 juta ton dalam setahun.

Dalam konferensi pers di Kantor Pusat Gapki, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026), 

Sekretaris Jenderal Gapki Hadi Sugeng mengatakan, tekanan tersebut berasal dari kenaikan konsumsi domestik yang tidak diimbangi peningkatan produksi. Penerapan B50 mulai Januari 2027 diperkirakan meningkatkan kebutuhan minyak sawit untuk biodiesel, sedangkan produksi berpotensi menurun.

Konsumsi naik 30 juta ton, dari 27 juta ton tahun ini menjadi 30 juta ton, atau naik 11%. Biodiesel dari 14,7 juta ton menjadi 17,4 juta ton. Program B50 yang dimulai Januari 2027 nantinya akan menggerus ekspor menjadi hanya 26,5 juta ton.

Dalam proyeksi Gapki, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada 2027 sebesar 56,6 juta ton, lebih rendah dibandingkan proyeksi 58,8 juta ton pada 2026. Sebaliknya, konsumsi domestik diperkirakan meningkat dari 27,11 juta ton menjadi 30 juta ton.

Nah, kombinasi penurunan produksi dan kenaikan kebutuhan dalam negeri tersebut, dalam catatan Gapki berpotensi mempersempit ruang ekspor Indonesia. Kondisi ini juga membuat ketersediaan stok menjadi perhatian menjelang peningkatan kewajiban pencampuran biodiesel.

Tekanan Pasokan Tercermin pada Persediaan Minyak Sawit Nasional

Bukan apa-apa. Tekanan pasokan diperkirakan tercermin pada persediaan minyak sawit nasional. Gapki memperkirakan stok akhir pada 2027 hanya sekitar 2,7 juta ton, lebih rendah daripada tingkat ideal yang diperkirakan pada kisaran 3,5 juta ton-4 juta ton.

Repotnya karena besarnya luas perkebunan sawit nasional yang mendekati 17 juta hektare belum menjamin ketersediaan pasokan yang memadai apabila produksi tidak tumbuh sesuai kebutuhan. Faktanya, produksi nasional memang tidak begitu baik sehingga stoknya juga sangat berat.