EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengaku terkejut dengan pengumuman MSCI yang muncul lebih awal.

Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi menyampaikan semula penyedia indeks global rencananya mengumumkan hasil tinjauan pada 12 November mendatang.

Dalam pengumuman MSCI itu, klasifikasi Indonesia sebagai Emerging Market dianggap tidak lagi tepat. Bahkan, MSCI menilai penurunan ke Frontier Market pun tidak cukup menggambarkan kedalaman masalah pasar Indonesia.

“Kami juga terus terang surprise, banyak pihak surprise, pelaku pasar juga surprise. Kok bisa jauh lebih awal dari pengumuman 12 November kalau gak, salah. Ini lebih awal hampir sebulan sebelumnya, terus terang di luar perkiraan kami,” ujar Idin kala jumpa pers, Jumat (16/10).

Menyikapi itu, BEI akan memenuhi dua hal yang diinginkan MSCI meliputi bukti konkret dari reformasi pasar modal yang telah dilakukan.

“Kemudian kedua adalah enforcement. Kalau dari kami enforcement-nya lebih kepada surveillance daripada market. Itu yang akan kami perkuat, jadi dengan data yang semakin transpaaran, surveillance juga kami perkuat,” lanjut Iding.

Potensi Outflow USD3 Miliar

Jika Indonesia benar-benar turun kasta ke standalone market, terdapat potensi dana asing pasif keluar sekitar USD3 miliar.

Riset Mirae Asset Sekuritas menilai saham-saham big banks dan emiten dengan kepemilikan asing tinggi menjadi yang paling berisiko.

Menanggapi itu, Iding mengatakan bahwa hal tersebut merupakan di luar kendali Bursa. Pihaknya fokus terhadap reformasi fundamental dibanding hal tersebut.