EmitenNews.com - Saranacentral (BAJA) semester I 2026 mengemas laba Rp21,33 miliar. Meroket 229 persen dari episode sama tahun sebelumnya minus Rp16,53 miliar. Menyusul hasil positif itu, laba per saham dasar melonjak menjadi Rp11,85 dari periode sebelumnya minus Rp9,18.

Penjualan bersih Rp634,54 miliar, melonjak 85,74 persen dari periode sama tahun lalu Rp341,63 miliar. Beban pokok penjualan Rp584,07 miliar, mengalami pembengkakan dari fase sama tahun sebelumnya Rp332,64 miliar. Laba kotor terkumpul Rp50,46 miliar, melesat dari posisi sama 2025 senilai Rp8,98 miliar.

Beban penjualan Rp3,54 miliar, bertambah dari Rp3,47 miliar. Beban umum dan administrasi Rp6,03 miliar, menciut dari Rp10,52 miliar. Total beban usaha Rp9,57 miliar, turun signifikan dari Rp13,99 miliar. Laba usaha terkumpul Rp40,88 miliar, melangit dari posisi sama tahun lalu boncos Rp5,01 miliar.

Beban bunga dan keuangan lainnya Rp8,26 miliar, turun dari Rp12,38 miliar. Kerugian kurs mata uang asing Rp13,2 miliar, bengkak dari Rp1,44 miliar. Pendapatan bunga Rp108,75 juta, anjlok dari Rp731,48 juta. Beban lain-lain bersih Rp19,79 miliar, makin bengkak dari posisi sama tahun lalu Rp12,11 miliar.

Jumlah ekuitas Rp42,67 miliar, melonjak dari akhir tahun sebelumnya Rp21,27 miliar. Defisit Rp195,47 miliar, menciut dari Rp216,88 miliar. Total liabilitas Rp726,76 miliar, bengkak dari akhir 2025 senilai Rp663,39 miliar. Jumlah aset Rp769,44 miliar, melonjak dari akhir tahun lalu Rp684,66 miliar. 

Sandang Status HSC

Sementara itu, BAJA masuk barisan emiten dengan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi alias High Shareholding Concentration (HSC). Itu setelah 93,89 persen saham BAJA dikapling sekelompok elite tertentu. Oleh sebab itu, Bursa Efek Indonesia tanpa ragu menghadiahi status HSC pada 10 Agustus 2026.

Penentuan HSC itu, berdasar metodologi atas struktur kepemilikan saham dalam bentuk warkat, dan tanpa warkat per 6 Agustus 2026. Alhasil, saham BAJA dimiliki sejumlah tertentu pemegang saham secara agregat menguasai 93,895 persen dari total saham dalam bentuk warkat, dan tanpa warkat perseroan.

Dengan bergabungnya BAJA, daftar emiten penyintas HSC menjadi 55 emiten. Tersebab, pada 5 Agustus 2026, Bukit Darmo Properti (BKDP) menjadi anggota baru emiten HSC 95,45 persen. Lalu, pada 4 Agustus 2026, BEI menjebloskan Asia Sejahtera Mina (AGAR) 99,32 persen, dan Alakasa Industrindo (ALKA) 98,21 persen dalam daftarh saham HSC. 

Berdasar data EmitenNews, Maha Properti Indonesia (MPRO) memimpin puncak daftar dengan konsentrasi kepemilikan tertinggi mencapai 99,99 persen. Menyusul kemudian gurita pusat data DCI Indonesia (DCII) dengan porsi 99,96 persen, Krom Bank Indonesia (BBSI), dan Pradiksi Gunatama (PGUN) masing-masing 99,95 persen.