EmitenNews.com - Pemerintah menyiapkan langkah pengembangan komoditas ubi jalar melalui hilirisasi. Sasarannya, meningkatkan kualitas ekspor sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Kementerian Transmigrasi menyiapkan program itu, untuk menjawab tantangan pada rendahnya porsi produksi yang memenuhi standar ekspor.

“Untuk kualitas ekspor hanya sekitar 15 persen dari produksi yang bisa dikirim ke luar negeri. Padahal pasarnya sudah ada, seperti Korea Selatan dan Jepang, dan potensinya masih sangat besar,” kata Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara saat berkunjung ke Sumedang, Jawa Barat, Rabu (22/4/2026).

Pemerintah menargetkan peningkatan signifikan kualitas ekspor melalui dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi dari perguruan tinggi, sehingga mampu memperluas volume ekspor nasional.

Program pengembangan ubi jalar melalui hilirisasi yang disiapkan Kementerian Transmigrasi juga berkaitan erat dengan upaya penguatan kawasan transmigrasi sebagai sentra ekonomi produktif.

Bagusnya, karena lahan transmigrasi yang luas dimanfaatkan tidak hanya untuk kegiatan budidaya pertanian, tetapi juga untuk mendorong peningkatan nilai tambah melalui pengolahan hasil panen serta perluasan akses pasar hingga ekspor.

Selain peningkatan kualitas, Kementerian Transmigrasi juga mendorong hilirisasi produk ubi jalar bagi hasil produksi yang belum memenuhi standar ekspor agar memiliki nilai tambah di dalam negeri.

“Saat ini, hanya 15 persen yang diolah, Yang diekspor dalam bentuk mentah. Nanti kita tingkatkan menjadi sementara 50 persen lainnya diolah,” katanya.

Pengembangan ubi jalar dalam skala besar memiliki potensi produktivitas sekitar 15 ton per hektare dengan total lahan mencapai 1.000 hektare. Dalam 1.000 hektare lahan, per hektare bisa menghasilkan 15 ton ubi jalar.

Oengembangan komoditas tersebut perlu didukung model bisnis yang matang, termasuk investasi, rantai logistik, serta kepastian pasar agar hasil petani terserap optimal. Biasanya petani hanya menanam, tapi tidak tahu hasilnya akan dijual ke mana.

Menteri Iftitah menegaskan, pengembangan ubi jalar akan dilakukan secara terintegrasi melalui pemanfaatan lahan transmigrasi, tenaga kerja, dukungan teknologi perguruan tinggi, investasi, serta kepastian pasar. ***