EmitenNews.com - Beberapa waktu lalu, pasar saham domestik kita dikejutkan oleh pergeseran peta kepemilikan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) setelah duo pendiri, Low Tuck Kwong dan Elaine Low, sepakat memindahtangankan sebagian porsi kepemilikan sahamnya kepada PT Jhonlin Baratama milik pengusaha Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.

Kesepakatan di tingkat pemegang saham utama ini menjadi sorotan hangat karena menyentuh salah satu emiten dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tertinggi di bursa, di mana porsi penguasaan pendiri dan investor strategis mencapai 98,50 persen.

Menariknya, perubahan peta penguasaan ini terjadi tepat saat perseroan mencatatkan kinerja fundamental yang sangat kuat, ditandai oleh lonjakan laba bersih kuartal II-2026 yang mencapai USD 416,56 juta serta ekspansi pasar ekspor yang signifikan di kawasan Asia Tenggara.

Kejutan Besar di Peta Kepemilikan BYAN September-Oktober 2026

Struktur kepemilikan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) berdasarkan data KSEI untuk porsi kepemilikan di atas 1 persen per 30 September 2026 mencatatkan konsentrasi modal yang luar biasa padat. Pendiri sekaligus pemegang saham utama, Low Tuck Kwong, menguasai sebanyak 13.406.921.870 lembar saham atau setara dengan 40,22 persen.

Di posisi kedua, Elaine Low memegang 7.333.333.700 lembar saham yang mewakili 22,00 persen kepemilikan. Sementara itu, PT Sumber Suryadaya Prima menggenggam 3.333.380.000 lembar saham atau sebesar 10,00 persen.

Konsorsium lima perusahaan listrik asal Korea Selatan, yaitu Korea East-West Power Co., Ltd., Korea Western Power Co., Ltd., Korea Southern Power Co., Ltd., Korea Midland Power Co., Ltd., dan Korea South-East Power Co., Ltd., masing-masing memiliki porsi yang persis sama yaitu 1.333.333.400 lembar saham atau 4,00 persen per entitas, sehingga total akumulasi konsorsium ini mencapai 20,00 persen.

Jajaran pemegang saham individu strategis lainnya diisi oleh Lim Chai Hock dengan kepemilikan 1.086.740.000 lembar saham atau 3,26 persen, serta Jenny Quantero yang menggenggam 994.975.000 lembar saham atau setara 2,98 persen.

Dengan penguasaan para pemegang saham utama dan institusi strategis yang mencapai sekitar 98,50 persen, porsi saham publik atau free float yang beredar di pasar riil tergolong sangat minim dan menjadikan BYAN sebagai salah satu saham paling "kering" berkapitalisasi raksasa di Bursa Efek Indonesia.

Peta kepemilikan yang sangat terkonsentrasi tersebut memasuki babak baru pada periode September hingga Oktober 2026. Beredarnya rumor di pasar saham yang diawali oleh laporan Bloomberg pada awal September 2026 mengenai ketertarikan entitas milik Haji Isam akhirnya terkonfirmasi secara rinci.