EmitenNews.com - Perkembangan Ubud, Bali sebagai destinasi wisata tidak lagi hanya ditopang oleh kekayaan budaya dan alamnya. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini juga menjelma menjadi salah satu pusat gastronomi di Pulau Dewata, tempat restoran-restoran dengan konsep yang beragam bermunculan untuk memenuhi selera wisatawan domestik maupun mancanegara. 

Di antara deretan destinasi kuliner tersebut, Chupacabras hadir menawarkan pendekatan berbeda melalui tradisi memasak dengan api terbuka khas Amerika Selatan.

Restoran yang berlokasi di kawasan Kedewatan ini mengusung konsep steakhouse dengan inspirasi dari Argentina dan sejumlah negara di Amerika Selatan. Pengalaman bersantap dirancang tidak hanya berpusat pada hidangan, tetapi juga pada proses memasaknya. 

Panggangan kayu sepanjang dua meter menjadi elemen utama restoran sekaligus titik perhatian begitu pengunjung memasuki ruang makan. Di atas bara api itulah berbagai potongan daging premium dipanggang secara perlahan hingga menghasilkan aroma asap yang khas dan tekstur yang tetap lembut.

Teknik memanggang menggunakan kayu merupakan bagian penting dari tradisi kuliner Amerika Selatan, khususnya Argentina. Metode ini mengandalkan panas yang stabil dari bara kayu untuk membangun lapisan rasa secara bertahap. Hasilnya bukan sekadar daging matang, melainkan karakter rasa lebih kompleks dengan sentuhan asap yang tidak berlebihan.

Di Chupacabras, tradisi tersebut dipadukan dengan lanskap tropis Ubud. Restoran menghadap kawasan hutan hijau Kedewatan yang berubah warna ketika matahari mulai terbenam. Menjelang senja, cahaya keemasan yang masuk ruang makan berpadu dengan pijar api dari panggangan, menciptakan suasana yang menjadi bagian dari pengalaman bersantap.

Dapur Chupacabras Dipimpin Mauro Santarelli, Chef asal Argentina

Dapur Chupacabras dipimpin oleh Mauro Santarelli, chef asal Argentina yang telah bekerja di berbagai negara di Amerika Selatan, Eropa, dan Asia. Pengalaman lintas kawasan itu memengaruhi pendekatannya dalam menyusun menu. Ia tetap mempertahankan teknik memasak tradisional, namun menghadirkannya dalam penyajian lebih kontemporer tanpa meninggalkan identitas kuliner asalnya.

Menu di restoran ini memperlihatkan keberagaman kuliner Amerika Selatan yang tidak hanya identik dengan steak. Salah satu hidangan pembuka Humita & Huancaína, perpaduan humita khas Argentina berbahan dasar jagung dengan saus huancaína dari Peru yang lembut dan memiliki sentuhan rasa pedas. 

Hidangan lain, Camarones con Cupuaçu, mengombinasikan udang panggang dengan leche de tigre berbahan buah cupuaçu dari Brasil. Perpaduan tersebut menghasilkan cita rasa yang segar dengan nuansa tropis.