EmitenNews.com -Fluktuasi harga CPO sepertinya masih dalam tren penguatan, setelah melesat di Bulan November lalu, Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) melejit pada Selasa (3/12/2024). Ini membalikan pelemahan sebelumnya dipicu penurunan produksi.

Berdasarkan data BMD pada penutupan Selasa, kontrak berjangka CPO untuk Desember 2024 melonjak 126 Ringgit Malaysia menjadi 5.343 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO Januari 2025 terkerek 133 Ringgit Malaysia menjadi 5.212 Ringgit Malaysia per ton.

Sedangkan kontrak berjangka CPO April 2025 menguat 81 Ringgit Malaysia menjadi 4.770 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Mei 2025 terkerek 61 Ringgit Malaysia menjadi 4.622 Ringgit Malaysia per ton.

Untuk para pelaku pasar, tentunya fluktuasi harga CPO akan mempengaruhi pandangannya terhadap saham-saham emiten dengan core bisnis di sektor sawit.

Head Of Research NH Korindo Sekuritas, Liza C Suryanata mengatakan CPO untuk jangka pendek masih akan bergerak menguji area 5270, secara mingguan  saat ini harga  CPO sudah naik ke titik tertinggi since June 2022. Harga CPO memang biasa meningkat mendekati festive season. Rencana pemerintah RI lebih lanjut mengenai Biodiesel diperkirakan masih merupakan katalis utama bagi performa emiten CPO di Indonesia. 

Liza menambahkan menurut Fibonacci retracement, sekarang berada di percentage 38.2%. Jikalau harga pullback dari titik ini, masih ada Support uptrend pertama yang sedianya menopang di sekitar harga 4820 (MA10). “Target lanjutan bisa ke arah Fibonacci retracement 50% atau 61.8% pada range : 5960 - 6000 / 6625,” kata Liza, Rabu (4/12/2024).

Salah satu emiten yang cukup menarik diperhatikan adalah PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) dimana perseroan sebelumnya telah mengklaim bahwa 100 persen RSPO dan memiliki potensi meraih kontrak dengan beberapa buyer besar yang sedang dijajaki. Dan memiliki target produksi TBS inti meningkat 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara, produksi CPO ditargetkan tumbuh hingga 15%.

Awal tahun lalu SSMS memaparkan optimisme ini seiring produksi CPO perseroan dalam jangka panjang akan terus meningkat, seiring dengan profil usia perkebunan yang masih berada pada usia produksi prima. perseroan akan menggenjot produksi TBS dan CPO tahun ini dengan sejumlah aktivitas agronomis, seperti melakukan pemupukan dan pemeliharaan yang optimal sehingga buah yang dihasilkan dapat maksimal serta memiliki kualitas terbaik. 

Aktivitas ini juga didukung oleh perseroan yang berkomitmen pada aspek ESG (Environmental, Social, and Governance) melalui program keberlanjutan. Saat ini SSMS telah merampungkan seluruh operasionalnya yang telah tersertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil).

Abdul Azis selaku Equity Research,  Kiwoom Sekuritas mengatakan, prospek emiten CPO sebenernya masih cukup positif mengingat penerapan B40 yang bisa mendorong demand dari CPO sendiri. Di sisi lain juga saat ini sedang masuk musim penghujan yang mana bisa berdampak terganggunya supply dan mendorong harga CPO. 

Untuk SSMS ini juga diharapkan dapat memperbaiki kinerja kedepannya, dengan adanya perbaikan kinerja maka akan berdampak positif juga ke sahamnya terlebih SSMS juga termasuk saham yang lagging karena beberapa saham CPO seperti LSIP dan AALI juga sudah duluan naik.

Sementara itu Yoser Athanasius Triastomo Investment Gallery Coordinator Sucor Sekuritas menyebut, saham PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) secara teknikal masih cenderung fluktuatif, Stochastic 15,3,3 yang saya pakai pun menunjukkan SSMS mengalami patah uptrend setelah penurunannya di 2 Desember 2024 kemarin. 

Namun saat ini SSMS sendiri berada di area support 1010-1025, setelah pada perdagangan kemarin menguat tipis 1,91 persen atau 20 poin ke level 1065 maka, kita masih layak untuk memperhatikan pergerakkan hari ini sebagai bentuk lanjutan untuk melihat arahnya kemana. 

“Selama beberapa hari di bulan November 2024 kemarin, SSMS sedang mengalami distribusi yang cukup besar, sehingga apabila melihat kondisi Harga saat ini saran saya, kita perlu kembali pergerakkan Harga selama satu minggu ini untuk menentukan kembali support resistance dari SSMS,” ujar Yoser, Rabu (4/12/2024).

Dalam jangka pendek pun hal ini juga membantu kita untuk menentukan entry dan target price namun, karena pergerakan yang cepat ini kita perlu menentukan entry dan target price yang ketat untuk memaksimalkan profit. Melihat dari segi volume nya pun yang cenderung stagnan pada SSMS juga membuat kita sulit untuk menentukan trend dari emiten SSMS, sehingga kita membutuhkan bantuan indicator lain yang menyesuaikan dengan sweet spot masing-masing trader dan investor.

Dari segi Komoditas, emiten CPO Berdasarkan penilaian pribadi sering kali pergerakannya memang tidak sejalan dengan komoditasnya sendiri walaupun kenaikan Harga CPO itu sendiri juga diikuti oleh sentimen seperti penerapan Single Tariff Ekspor sebesar 7.5% yang ditetapkan di pertengahan tahun 2024 ini pun tidak memberikan dampak signifikan pada Harga emiten CPO saat ini. 

Menurut Yoser, memang CPO ini Secara fungsional sangat memiliki banyak alternatif produk jadi seperti kebutuhan rumah tangga, pangan, industri, dan lainnya. Namun, kita juga perlu memperhatikan permintaan CPO secara global, karena sering kali CPO ini sendiri sering terjegal oleh penilaian pasar global terhadap faktor lingkungan yang seringkali juga membuat Emiten yang berkaitan dengan CPO ini sendiri kurang perform dengan kenaikan Harga CPO tersebut. Kita tahu sendiri bahwa ESG matters di mata investor maupun pasar global Secara menyeluruh sehingga, kita sendiri juga perlu lebih objektif dalam memandang Komoditas CPO dan Emiten yang berkaitan dengan CPO dalam jangka pendek.