EmitenNews.com -Keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menerapkan tarif impor baru melalu kebijakan Liberation Day Tariffs telah mengguncang pasar modal global dan menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi internasional. Dengan tarif dasar 10% untuk semua barang impor serta tambahan tarif hingga 32% bagi beberapa negara, termasuk Indonesia, kebijakan ini berisiko memperlambat perdagangan global dan menekan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang.

Menurut data yang dirilis oleh Business Insider (2025), kebijakan ini memicu penurunan tajam di bursa saham global. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) anjlok lebih dari 1.200 poin, sementara Nasdaq dan S&P 500 masing-masing turun 5,1% dan 3,66% dalam sehari setelah pengumuman kebijakan tersebut. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan rantai pasok global serta peningkatan biaya produksi bagi perusahaan multinasional seperti Apple dan Nike.

Ekonom senior dari Wall Street Institute, Michael Carson, menyatakan bahwa kebijakan ini meningkatkan ketidakpastian global dan berisiko memperlambat pemulihan ekonomi pasca pandemi. "Ketika tarif impor diberlakukan, dampaknya akan dirasakan tidak hanya oleh eksportir, tetapi juga oleh konsumen dan pelaku usaha di berbagai negara," katanya.

Investor Beralih ke Aset Aman

Gejolak di pasar saham mendorong investor untuk mencari perlindungan pada aset yang lebih stabil. Harga emas melonjak signifikan, sementara permintaan terhadap obligasi pemerintah AS meningkat tajam, menunjukkan pergeseran investasi ke aset safe-haven. Indeks Volatilitas CBOE, yang sering digunakan sebagai ukuran ketakutan pasar, mencapai level tertinggi dalam tiga minggu terakhir.

Di Indonesia, dampak awal dari kebijakan ini terlihat dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Menurut data Jakarta Globe (2025), rupiah melemah hingga Rp16.200 per USD akibat meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai. Analis ekonomi Bank Mandiri, Rudi Prasetyo, menjelaskan bahwa volatilitas di pasar global seringkali memicu arus keluar modal dari negara berkembang. "Investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang dan mengalihkan investasi ke aset yang lebih aman di AS, sehingga memberi tekanan pada rupiah," ujarnya.

Dampak terhadap Sektor Ekspor Indonesia

Indonesia sebagai negara berkembang yang bergantung pada ekspor ke AS menghadapi risiko penurunan daya saing akibat kebijakan tarif ini. Menurut laporan Antara News (2025), sektor-sektor yang paling terdampak meliputi:

Otomotif: Tarif tinggi membuat mobil dan komponen otomotif Indonesia kurang kompetitif di pasar AS.

Elektronik: Peningkatan harga bahan baku akibat tarif impor berisiko menaikkan biaya produksi bagi industri elektronik dalam negeri.

Minyak Nabati dan Perikanan: Produk-produk ini, yang sebelumnya menjadi andalan ekspor ke AS, diperkirakan akan mengalami penurunan permintaan akibat kenaikan harga.

Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, Faisal Basri, menilai bahwa tarif impor AS akan semakin memperburuk defisit neraca perdagangan Indonesia. "Kita sangat bergantung pada pasar AS, dan kenaikan tarif ini bisa berdampak langsung pada sektor manufaktur serta tenaga kerja dalam negeri," jelasnya.

Strategi Mitigasi Pemerintah

Menyadari potensi dampak negatif dari kebijakan ini, pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah-langkah mitigasi yang tepat. Beberapa strategi yang dapat dilakukan mencakup:

Diversifikasi pasar ekspor: Mengurangi ketergantungan pada AS dengan memperkuat hubungan dagang dengan Uni Eropa dan China.

Insentif bagi industri terdampak: Pemerintah dapat memberikan stimulus berupa insentif pajak atau subsidi bagi sektor manufaktur dan ekspor.

Intervensi nilai tukar: Bank Indonesia dapat melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi.