EmitenNews.com - Pembangunan enam proyek hilirisasi resmi dimulai. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) telah meletakkan batu pertama pembangunan 6 proyek yang bergerak di sektor energi, pertambangan, pertanian, dan peternakan senilai Rp110 triliun itu.

Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan, 6 proyek itu akan menciptakan sekitar 3.000 lapangan pekerjaan baik secara langsung, maupun tidak langsung. Proyek tersebut melibatkan banyak pemangku kepentingan termasuk juga usaha kecil menengah di daerah proyek beroperasi.

"Enam proyek ini akan kurang lebih investasinya mencapai USD7 miliar atau kurang lebih Rp110 triliun," ujar Rosan Perkasa Roeslani di kantor Danantara Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Enam proyek hilirisasi tersebut sebagai berikut:

  1. Fasilitas pengolahan bauksit, alumina, dan alumunium di Mempawah, Kalimantan Barat.
  2. Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) 2 di Mempawah, Kalimantan Barat.
  3. Pabrik bioethanol Glenmore fase 1 di Banyuwangi, Jawa Timur.
  4. Pabrik biorefinery (bioavtur) di Cilacap, Jawa Tengah.
  5. Proyek peternakan unggas terintegrasi pada enam daerah (Malang, Gorontalo Utara, Lampung Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
  6. Pabrik garam di Sampang-Madura, Manyar-Gresik, dan Segoromadu 2-Gresik.

Proyek hilirisasi ini bukan hanya berfokus pada investasi, melainkan juga menciptakan multiplier effek, seperti terbukanya lapangan pekerjaan hingga pertumbuhan daerah yang berujung pada pertumbuhan ekonomi nasional.

"Enam proyek hilirisasi yang sebetulnya berlokasi di 13 daerah itu, karena ada 1 proyek hilirisasi poultry atau peternakan ayam di 6 kota di Tanah Air," urai Menteri Investasi tersebut.

Proyek-proyek tersebut mencakup sektor mineral energi dan agroindustri yang merupakan tulang punggung dari transformasi ekonomi nasional ke depannya. Proyek ini menjadi fokus Presiden Prabowo Subianto karena akan berdampak langsung bagi ekonomi dan masyarakat.

Kontribusi dari proyek hilirisasi meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2025 proyek hilirisasi ini menyumbang kurang lebih 30% dari total investasi yang masuk ke Indonesia atau senilai Rp584,1 triliun. Capaian tersebut naik 43,3% secara tahunan.

Proyek hilirisasi ini lebih berpusat di beberapa daerah. Indonesia Mineral terutama di daerah Maluku dan juga Maluku Utara dan di daerah Sulawesi. Harapannya penyebarannya menjadi lebih baik, dan meningkat ke depan. ***