EmitenNews.com - PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) mengarahkan belanja modal (capex) tahun 2026 untuk memperbesar kapasitas data center seiring pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital, dengan potensi pengembangan kapasitas mencapai lebih dari 2.000 megawatt (MW).

Dalam paparan publik Senin (30/3/2026), Finance Director DCII, Eveline, menyampaikan realisasi capex berjalan sesuai rencana dan difokuskan pada ekspansi kapasitas serta penguatan operasional.

“Jadi hingga saat ini, realisasi Capex 2026 berjalan sesuai rencana dan dialokasikan terutama untuk ekspansi kapasitas pusat data. Kedepannya, investasi akan terus kami lakukan secara disiplin untuk mempertahankan posisi kami sebagai pemimpin pasar,” ujar Eveline.

Saat ini, DCII telah mengoperasikan kapasitas terpasang sebesar 128 MW yang tersebar di empat lokasi, yakni H1 Cibitung dengan kapasitas 73 MW (Scalable ke 220 MW), H2 Karawang dengan 27 MW (Scalable ke >600 MW), E1 Jakarta dengan 19 MW dan E2 Surabaya dengan 9 MW.

Perseroan juga tengah mengembangkan proyek hyperscale di Bintan (H3) dengan kapasitas yang dapat diskalakan hingga lebih dari 1.000 MW, sebagai bagian dari pipeline ekspansi menuju kapasitas lebih dari 2.000 MW.

Dari sisi ekspansi, perseroan menerapkan pendekatan berbasis permintaan (demand-driven). VP Market Development & Sales Strategy DCII, Billy, mengatakan pembangunan kapasitas baru akan mengikuti kebutuhan pelanggan.

“Jadi secara ekspansi, kita tentu akan terus membangun sesuai dengan permintaan pasar. Jadi kalau misalnya ada customer yang datang dan mencari kapasitas data, kita pasti akan membangun sesuai dengan permintaan mereka. Jadi itu saja yang bisa saya share saat ini,” ungkap Billy.

Memurut Billy, permintaan pusat data global diproyeksikan meningkat pesat hingga hampir 10 kali lipat antara 2025 sampai dengan 2030.

Billy juga menjelaskan bahwa pemanfaatan pusat data oleh perusahaan AI kini bergeser dari pelatihan (training) model menuju inference, yaitu penggunaan model yang telah dilatih untuk memenuhi permintaan pengguna, baik individu maupun enterprise.

Seiring pergeseran ini, proporsi beban komputasi pusat data untuk inference diproyeksikan meningkat dari sekitar 40 persen pada 2025 menjadi 80 persen pada 2030.

"Indonesia sendiri memiliki lebih dari 280 juta penduduk, inference ini akan menjadi pilar penting dalam permintaan pusat data di Indonesia ke depannya," kata Billy.

Ketika ditanya mengenai rencana ekspansi DCI Indonesia pada tahun ini, Billy mengatakan bahwa perseroan akan membangun pusat data sesuai dengan permintaan pasar.

Hingga saat ini, diungkapkan Billy bahwa DCII telah melayani lebih dari 270 pelanggan, dengan sekitar 80 persen merupakan perusahaan multinasional, termasuk perusahaan teknologi global dan enterprise. Basis pelanggan ini menjadi salah satu pembeda di tengah kompetisi industri data center.

Billy menjelaskan, rekam jejak dan kecepatan pembangunan menjadi faktor utama dalam memenangkan persaingan.

“Terkait kompetisi ini memang yang dicari customer itu ada beberapa key criteria. Salah satunya adalah track record melayani customer. Jadi kalau dari sisi itu memang DCII sudah mempunyai posisi sangat kuat,” jelas Billy.

Selain itu, perseroan juga mengandalkan keunggulan speed to market dalam pengembangan fasilitas di mana DCII diungkapkan Billy dapat membangun fasilitas data center tercepat di Indonesia kurang dari 12 bulan. 

“Ini menjadi sangat penting untuk memenangkan kompetisi (bisnis) karena semakin cepatnya kita bisa membangun pusat data itu artinya juga faster time to revenue untuk customer-customer kami. Jadi kami dari DCII juga terus berinovasi dari sisi proses kami, dari sisi design dan arsitektur kami supaya kami bisa mendeliver kapasitas pusat data lebih cepat lagi daripada sebelumnya,” tutup Billy.