EmitenNews.com - Organon Pharma Indonesia (SCPI) berencana go private dan delisting. Rencana itu, harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari pemegang saham. Nah, untuk mengantongi izin itu, perseroan akan menggeber Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 23 Juni 2026 mendatang. 

Go private dan delisting dilatari oleh fakta saham SCPI tidak lagi aktif diperdagangkan. Berdasar data pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham perseroan tiga tahun terakhir, tingkat kehadiran dan partisipasi pemegang saham publik dalam rapat-rapat tersebut sangat rendah. 

Melalui rencana itu, pemegang saham publik akan memperoleh kesempatan untuk menjual saham dengan harga premium dibanding harga historis saham SCPI. Saat ini, SCPI dapat membiayai kegiatan operasional, dan tidak ada kebutuhan untuk mencari dana dari masyarakat atau publik.

Rencana go private dan delisting sejalan dengan kebijakan global Grup Merck. Di mana, Grup Merck terus melakukan restrukturisasi grup secara global setelah melakukan merger dengan Schering-Plough pada 2009. Selain itu, pada 2021 telah dilakukan transaksi spin off pada tingkat pemegang saham SCPI.

Organon LLC sebagai pemegang saham utama dan pengendali dengan koleksi 3,55 juta lembar setara 98,8 persen saham SPCI, akan melakukan penawaran untuk membeli saham milik publik melalui penawaran tender sukarela alias voluntary tender offer (VTO) sebagaimana diatur dalam Peraturan OJK No. 54/POJK.04/2015.

Organon LLC akan menawar saham publik senilai Rp100 ribu per lembar. Tawaran harga itu, lebih tinggi sekitar 67.937 poin alias 211,88 persen dari penutupan perdagangan terakhir saat disuspensi pada 1 Februari 2023 di level Rp32.063 per lembar. Kalau ada investor tidak bersedia maka akan tetap menjadi pemegang saham SCPI sebagai perusahaan tertutup. 

Performa Kuartal I 2026

SCPI sepanjang tiga bulan pertama 2026 mencatat laba bersih Rp86,24 miliar. Surplus 6,14 persen dari episode sama tahun lalu Rp81,25 miliar. Laba per saham dasar dan dilusian menjadi Rp23,957 dari sebelumnya Rp22,571. Pendapatan bersih Rp863,8 miliar, susut dari Rp886,3 miliar.

Beban pokok pendapatan Rp748,84 miliar, berkurang dari Rp769,43 miliar. Laba kotor Rp114,96 miliar, turun dari sebelumnya Rp116,87 miliar. Beban umum dan administrasi Rp8,82 miliar, turun dari Rp9,49 miliar. Beban penjualan Rp4,04 miliar, berkurang dari Rp4,07 miliar. 

Biaya keuangan Rp76,37 juta, bengkak dari Rp58,09 juta. Rugi kurs mata uang asing Rp1,16 miliar, melonjak dari Rp374,39 juta. Lain-lain bersih Rp2,32miliar, melejit dari Rp2,3 miliar. Laba sebelum pajak penghasilan Rp105,52 miliar, turun dari Rp105,92 miliar. Beban pajak penghasilan Rp19,27 miliar, susut dari Rp24,67 miliar.