Dialog Budaya NAWA 2023, Strategi Agar Musik Tradisional Relevan di Telinga Generasi Muda
:
0
Penghargaan untuk Akademisi - Nusantara Academic Writing Awards (NAWA) 2023 merupakan penghargaan akademik atas tesis magister atau Disertasi doktor terbaik yang mengangkat isu terkait keberagaman, tradisi, dan budaya. Direktur BCA Antonius Widodo (tengah), EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn (kelima dari kiri), Direktur Nusantara Institute Prof. Sumanto Al Qurtuby (keempat dari kiri), Koordinator Apresiasi & Literasi Musik, Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Edi Irawan, serta Dewan Penasihat Nusantara Institute Inge Setiawati (keempat dari kanan), berfoto bersama para pemenang NAWA 2023.
EmitenNews.com - Menjaga kelestarian musik tradisional bukanlah perkara mudah. Setidaknya hal itu yang dirasakan oleh para panelis dalam dialog kebudayaan bertajuk “Musik Tradisional: Menolak Sunyi di Tengah Deru Modernisasi” yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Jumat (14/7/2023). Semangatnya bagaimana agar musik tradisional akrab di telinga generasi muda.
Dialog kebudayaan, bagian dari rangkaian Nusantara Academic Writing Awards (NAWA) 2023 tersebut mengundang sejumlah pembicara. Termasuk musisi senior Viky Sianipar, Direktur Nusantara Institute Sumanto Al Qurtuby, dan Koordinator Apresiasi dan Literasi Musik, Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Edi Irawan.
Banyaknya suku bangsa yang mendiami kepulauan Indonesia melahirkan beragam seni budaya dari masa ke masa, tak terkecuali lagu daerah dan instrumennya. Dalam perjalanannya, produk kultur tersebut menjadi bagian dari identitas bangsa. Namun tantangan muncul tatkala musik dari negara-negara lain menggempur telinga masyarakat Tanah Air.
Dalam keterangannya yang dikutip Sabtu (15/7/2023), musisi senior Viky Sianipar berpendapat bahwa mengolah musik tradisional dengan cara tepat telah menjadi suatu tantangan yang perlu diatasi. Di dunia musik tradisional, kata dia, yang kurang itu pengemasannya, karena kurang dan tidak ada pengarahnya. Akhirnya, pelaku-pelaku instrumen berusaha mengemas dengan pengetahuan yang minim.
Tergantung bagaimana kreativitas
Profesor Sumanto Al Qurtuby, pakar antropologi dari King Fahd Petroleum University menambahkan bahwa, semua ini tergantung bagaimana kreativitas para pelaku seniman dan musisi musik tradisional tentang cara mengemas dan beradaptasi dengan proses perubahan zaman. Musik tradisional yang tidak bisa beradaptasi otomatis akan ditinggalkan, tapi yang bisa beradaptasi akan survive dan berkembang.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan langkah untuk memastikan musik tradisional tetap mendapat tempat di telinga masyarakat. Edi Irawan mengatakan perlu upaya perlindungan dan pengembangan ekosistem musik tradisional dengan memfasilitasi serta memberikan kesempatan kepada musisi muda Indonesia untuk mengembangkan karya mereka.
“Siapa yang akan mendengarkan karya musik tradisional, jika tidak ada apresiatornya. Yang perlu kita lakukan tidak hanya mengembangkan ‘pengemasan’ musik tradisional, namun membangun minat masyarakat Indonesia akan musik tradisional. Musik adalah bahasa universal. Saya yakin dengan segala kekhasannya, musik tradisional Indonesia dapat meraih panggung internasional,” kata Profesor Sumanto Al Qurtuby.
Nusantara Academic Writing Awards adalah hasil kerja sama antara Nusantara Institute dengan Bakti BCA yang berkegiatan memberikan penghargaan akademik atas tesis magister atau disertasi doktor terbaik yang mengangkat isu terkait tradisi, kebudayaan, keagamaan, dan kerajaan lokal di Indonesia. Ajang ini adalah tahun kelima setelah digelar untuk pertama kali pada 2019 silam.
Mereka yang menerima penghargaan NAWA 2023 adalah Pande Putu Yogi Arista Pratama (S3, Universitas Negeri Semarang); Frengki Nur Fariya Pratama (S2, Universitas Diponegoro); Ahmad Saefudin (S3, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga); Shienny Megawati Sutanto (S3, Institut Seni Indonesia-Denpasar); Ida Bagus Gede Surya Peradantha (S3, Institut Seni Indonesia-Surakarta); Uun Triya Tribuce (S2, Universitas Brawijaya); Ayu Kristina (S2, Universitas Gadjah Mada).
Related News
Pelototi Saham Ini, IHSG Berpotensi Terkoreksi
Papan Akselerasi & 1 Sektor Ini Jadi Primadona Kala IHSG Ambruk ATL
IHSG Telah Sentuh Titik All-Time Low (ATL) di Sepanjang Tahun 2026
Semarak Dividen Jumbo! 16 Emiten Ini Cum Date Dividen 20-22 Mei 2026
10 Emiten Tebar Dividen 18-19 Mei 2026, Ada BJTM, ARCI, hingga RATU
Telisik! BREN, TPIA, CUAN hingga DSSA Dominasi Top Losers Pekan Ini





