Kocok Ulang Saham MSCI Indonesia: Dibuang 10, Sisa 44 Konstituen
:
0
Kocok Ulang Saham MSCI Indonesia: Dibuang 10, Sisa 44 Konstituen. Dok. ETF Stream
EmitenNews.com - Pengumuman hasil evaluasi kuartalan Morgan Stanley Capital International atau MSCI periode Agustus 2026 membawa penataan ulang bagi pasar saham Indonesia. Seluruh penyesuaian bobot dan daftar saham ini mulai berlaku efektif pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026, dan resmi dipakai sebagai acuan pengelola dana global per 1 September 2026.
Hasil evaluasi kali ini mencatat pengurangan bersih yang cukup masif. Dari total 54 saham Indonesia yang sebelumnya terdaftar di seluruh ekosistem indeks MSCI pasca rebalancing Mei 2026, sebanyak 10 saham terdepak sepenuhnya dari indeks, 1 saham turun kasta, dan menyisakan 44 saham yang berhasil bertahan secara keseluruhan.
Pengocokan Papan Global Standard dan Small Cap
Di papan utama atau MSCI Global Standard Index, tidak ada satu pun saham baru dari Indonesia yang berhasil masuk mengingat status Indonesia yang masih dibekukan. Sebaliknya, dua nama besar yaitu Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) dan GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) resmi dikeluarkan. CPIN masih terselamatkan karena diturunkan kasta ke MSCI Small Cap Index. Namun GOTO terdepak penuh tanpa diberikan toleransi masuk ke papan Small Cap.
Di papan Small Cap, MSCI melakukan pembersihan secara masif. Selain memasukkan CPIN yang turun kasta dari papan utama, MSCI mencoret sembilan saham sekaligus dari daftar. Sembilan saham yang dikeluarkan sepenuhnya tersebut adalah Bank Jago (ARTO), Bukalapak (BUKA), Essa Industries (ESSA), MD Entertainment (FILM), Medikaloka Hermina (HEAL), MNC Tourism (KPIG), Raharja Energi Cepu (RATU), Semen Indonesia (SMGR), dan Transcoal Pacific (TCPI).
Peta Konstelasi Konglomerasi Terbaru: Siapa Bertahan dan Siapa Tersingkir?
Perubahan ini otomatis mengubah peta keterwakilan kelompok bisnis atau konglomerasi di bursa kita. Grup Barito milik Prajogo Pangestu menjadi salah satu yang paling tangguh karena berhasil mempertahankan seluruh sisa jagoannya seperti BRPT dan PTRO. Sebagai informasi, pada MSCI Review Mei 2026, tiga emiten jagoan Prajogo didepak paksa yaitu BREN, TPIA, dan CUAN.
Selain itu, di papan konstituen Indonesia juga masih bertahan emiten jagoan Grup Bakrie, yaitu BUMI, BRMS, dan ENRG. Kekuatan konglomerasi berbasis komoditas dan tambang makin dipertegas oleh jajaran emiten di lingkaran bisnis Boy Thohir dan Saratoga. Seluruh entitas utama mereka berdiri kokoh di ekosistem MSCI, mulai dari Alamtri Resources Indonesia (ADRO), Adaro Andalan Indonesia (AADI), hingga raksasa tambang emas dan tembaga Merdeka Copper Gold (MDKA). Ketahanan emiten-emiten ini menegaskan bahwa portofolio Indonesia di mata investor global masih sangat ditopang oleh grup komoditas berskala besar.
Grup Djarum milik keluarga Hartono tetap memegang kendali paling dominan lewat Bank Central Asia (BBCA) yang menguasai bobot terbesar di papan utama, didampingi Sarana Menara Nusantara (TOWR). Sementara Grup Astra masih kokoh mengandalkan ASII dan United Tractors (UNTR), meskipun unit bisnis rumah sakitnya yaitu HEAL harus keluar dari Small Cap Index.
Sektor ekonomi digital menjadi kelompok bisnis yang paling terpukul dalam kocok ulang indeks MSCI Agustus kali ini. Keluarnya GOTO dari papan utama serta dibuangnya ARTO dan BUKA dari papan Small Cap membuat keterwakilan emiten teknologi murni praktis tersisa pada Elang Mahkota Teknologi (EMTK).
Related News
Indeks Utama MSCI Saham Singapura vs Indonesia: Siapa Numpang Siapa?
Dibuang 3, Sisa 1 Anak Emas Prajogo di MSCI Global Standard Index
Emiten Jagoan Bakrie di Indeks Utama MSCI Labanya Tertekan 43%
Profit BUMI Melesat 188%, Berkah Pasar Lokal & Efek Transaksi Jhonlin
Lolos Evaluasi LQ45 Lagi, Cek Rapor Terbaru DEWA Grup Bakrie
BUMI vs DEWA di LQ45, Mana Saham Bakrie yang Paling Cuan?





