Dikira Cuan Gede Berkat Lawson, Ternyata Alfamidi Untung Karena Ini!
:
0
Dikira Cuan Gede Berkat Lawson, Ternyata Alfamidi Untung Karena Ini! Dok. Google
EmitenNews.com - Di tengah ketatnya margin industri ritel, laporan keuangan auditan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) tahun buku 2025 menyuguhkan sebuah anomali fundamental yang menarik perhatian. Secara headline, kinerja bottom-line MIDI mencatatkan lonjakan yang sangat tajam. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 45,0% dari Rp546,4 miliar pada 2024 menjadi Rp792,3 miliar di 2025, mengiringi pendapatan neto yang tumbuh stabil di angka Rp20,64 triliun.
Pertanyaannya, apakah gerai Alfamidi mendadak beroperasi jauh lebih efisien, atau ada manuver restrukturisasi bisnis di balik layar yang mendongkrak angka tersebut? Jawabannya ternyata tersembunyi di dalam Catatan Atas Laporan Keuangan (CaLK).
Plot Twist Divestasi Lawson ke Tangan Induk
Selama beberapa tahun terakhir, narasi pertumbuhan MIDI selalu dikaitkan dengan ekspansi gerai convenience store Lawson. Antrean konsumen yang membeli produk makanan siap saji (Ready-to-Eat/RTE) kerap dianggap sebagai mesin pencetak margin tebal bagi perusahaan. Padahal, realita di laporan keuangan justru memperlihatkan sisi sebaliknya: ekspansi segmen Food & Beverage (F&B) ini telah membebani arus kas secara signifikan.
Langkah pragmatis akhirnya dieksekusi oleh manajemen. Merujuk pada Catatan 25 terkait Pelepasan Entitas Anak, terungkap bahwa pada 14 Mei 2025, MIDI telah resmi menjual kepemilikan sahamnya (70%) di pengelola Lawson, yakni PT Lancar Wiguna Sejahtera (LWS). Entitas tersebut diambil alih oleh induk usahanya sendiri, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), melalui nilai transaksi sebesar Rp200,45 miliar.
Memangnya seberapa membebani operasional Lawson bagi MIDI sebelumnya? Data rekonsiliasi eliminasi di Catatan 25 memberikan gambaran yang jelas. Hanya dalam periode operasional singkat antara 1 Januari hingga 14 Mei 2025, LWS mencatatkan rugi bersih sebesar Rp66,2 miliar. Dengan melepaskan Lawson ke pangkuan Alfamart (AMRT), neraca dan laporan laba rugi MIDI otomatis bersih dari beban operasional serta tingginya biaya ekspansi gerai F&B. Sehingga dapat disimpulkan bahsa lonjakan laba 45% yang diraih MIDI tahun ini sangat tertopang oleh hilangnya titik kebocoran kas itu.
Risiko Barang Segar dan Ongkos Penyusutan Persediaan
Pasca-divestasi Lawson, tumpuan operasional MIDI kini kembali murni pada format Alfamidi dan Alfamidi Super. Perbedaan mendasar model bisnis ini dibandingkan minimarket konvensional adalah porsi penjualan produk makanan segar (fresh food) seperti buah, sayur, dan daging.
Menjual barang segar berarti perusahaan harus berhadapan langsung dengan risiko pembusukan atau penyusutan persediaan (inventory shrinkage). Pada Catatan 6 tentang Persediaan, risiko ini terbukti menjadi ongkos riil yang cukup mahal. Sepanjang 2025, manajemen MIDI mencadangkan beban keusangan persediaan sebesar Rp156,4 miliar (naik dari Rp129,5 miliar pada 2024). Lebih jauh, nilai persediaan nyata yang harus dihapusbukukan akibat rusak atau kedaluwarsa sepanjang tahun mencapai Rp156,6 miliar. Angka ini merefleksikan bahwa pemeliharaan rantai pasok dingin (cold chain) menuntut tingkat kedisiplinan logistik yang ketat serta toleransi biaya wastage (sisa terbuang) yang tinggi.
Struktur Modal Kerja Tetap Solid Tanpa Utang Bank
Related News
Adu Pesta IPO Juli 2026: PRDL Juara, 5 Emiten Lain Terjebak Euforia?
Proyek Pani & Dual Listing HKEX, Daya Jual Kuat Saham EMAS?
Saat Vietnam dkk. Naik Kelas Versi World Bank, Apa Artinya Bagi Kita?
S&P DJI Beri Kartu Kuning BEI, Rapor Bagus Tersandung Transparansi
Pembekuan Indeks MSCI Berlanjut, Saham HSC Jadi Pemicu Utama
INACO JELI Resmi IPO: Free Float 21,01%, Masuk Papan & Indeks Ini





