EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,72 persen menjadi 6.206 setelah sempat bergerak dua arah pada perdagangan awal sesi. Sentimen positif antara lain dari perosotan harga minyak mentah, menyusul harapan pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.

Secara teknikal, IHSG sempat menembus level MA5, namun ditutup di bawah level tersebut. Stochastic RSI membentuk golden cross area oversold. IHSG sepanjang perdagangan hari ini, Selasa, 26 Mei 2026 diperkirakan bergerak pada kisaran 6.100-6.300.

Sementara itu, pemerintah akan menerbitkan surat utang negara berdenominasi valuta asing senilai ekuivalen USD3,4 miliar, setara Rp59,5 triliun dengan asumsi kurs Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (USD). Obligasi dolar itu, antara lain bertujuan untuk mendorong apresiasi nilai tukar Rupiah.

Instrumen surat utang itu, diterbitkan dalam dua denominasi mata uang utama, yaitu sebesar USD2 miliar, dan dalam denominasi Euro mencapai €1,25 miliar. Penerbitan utang valas itu, diharapkan meningkatkan pasokan USD dalam negeri. Namun, di pasar spot Rupiah ditutup melemah 0,15 persen menjadi Rp17.744 per USD.

Depresiasi Rupiah akhir-akhir ini lebih disebabkan kekhawatiran akan prospek ekonomi Indonesia, dan berkurangnya kepercayaan investor. Di sisi lain, uji coba implementasi PP No.21/2026 soal kewajiban retensi devisa hasil ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) akan mulai awal Juni 2026, juga dimaksudkan untuk mengamankan pasokan valas dalam negeri.

Kewajiban penempatan DHE SDA kini diharuskan hanya kepada bank Himbara. Untuk retensinya diperketat, yaitu minimal 30 persen selama 3 bulan untuk industri migas, dan retensi 100 persen selama 12 bulan untuk industri non migas. Batas konversi DHE valas ke rupiah maksimal 50 persen.

Namun, AS justru akan dikecualikan dari PP tersebut karena Indonesia memiliki perjanjian ART dengan AS, meski belum diratifikasi. Kondisi tersebut dapat menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas, dan di lain pihak berpotensi membatasi ekspansi pengusaha.

Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Bank Central Asia (BBCA), Alamtri Mineral Resources (ADMR), Astra International (ASII), Perusahaan Gas Negara (PGAS), dan XLSmart Telecom (EXCL). (*)