DSI BUMN Efektif, Emiten Mana Untung dan Tertekan?
:
0
Seseorang melintas di depan monitor perdagangan saham di gedung BEI. Foto; EmitenNews
EmitenNews.com - Rencana pemerintah Indonesia atas pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI sebagai BUMN Eskpor satu pintu untuk komoditas Sumber Daya Alam (SDA), efektif bergulir pada 1 Juni 2026.
Langkah tersebut diambil sebagai upaya negara dalam memperkuat pengawasan, mendorong transparansi perdagangan, sekaligus mengoptimalkan pengelolaan Devisa Hasil Ekspor (DHE).
Ia juga menerangkan, pada tahap awal, implementasi akan mencakup tiga komoditas strategis, yaitu batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy yang selama ini menjadi kontributor penting bagi ekspor nasional dan surplus perdagangan Indonesia.
“Ini adalah memperkuat pengawasan dan tata kelola ekspor. Tujuannya untuk mencegah praktik under invoicing, transfer pricing, dan terkait dengan pelarian devisa hasil ekspor," ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Konferensi Pers terkait Persiapan Operasional PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) di Wisma Danantara Jakarta, Minggu (31/5).
Dihubungi terpisah, Senior Analys Technical Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta menilai kebijakan yang ditetapkan pemerintah atas DSI diperkirakan memberikan dampak beragam terhadap pasar, khususnya terhadap pergerakan IHSG dan emiten-emiten yang tercatat di BEI.
Jika ditelusuri, setelah pengumuman pembentukan DSI pada 21 Mei 2026, IHSG mengalami penurunan tajam sebesar 3,54% sehari. Hal itu disebabkan tiga alasan krusial terkait adanya risiko kebijakan.
Pertama, ketidakpastian operasional yang memicu sentimen pasar. Kedua, adanya kekhawatiran efisiensi pasar imbas penunjukan DSI sebagai pelaksana tunggal. Ketiga, potensi aksi ambil untuk di sejumlah sektor khususnya IDX Energy dan IDX Basic.
“Hal menunjukkan bahwa pasar merespons kebijakan ini bukan sebagai reformasi struktural positif, melainkan sebagai peningkatan risiko kebijakan (policy risk),” tutur Nafan, Senin (1/6/2026).
Nafan melanjutkan, dua sektor utama yang terkena sentimen negatif dari kebijakan pembentukan DSI menyasar saham tambang batubara eskportir murni, dengan emiten terkait seperti ITMG dan HRUM. Lalu, sentimen tersebut juga menyasar sektor perkebunan atau crude palm oil (CPO) dengan emiten terkait AALI, LSIP, hingga TAPG.
Sebaliknya, sektor hilirasi mineral serta sektor logistik dan infrastruktur komoditas BUMN diperkirakan dampak positif atas kebijakan pembentukan DSI. Dari sektor pertama, emiten terkait yang diperkirakan merasakan dampaknya yaitu ANTM, INCO, NCKL dan MBMA.
Related News
Laba GGRM Meledak 2.440 Persen Jadi Rp2,98 Triliun di Semester I 2026
Laba RAJA Melonjak 88 Persen Semester I, Ini Tiga Mesin Pendorongnya
Laba Bersih ULTJ Melonjak 72,5 Persen YoY Tembus Rp1,04T di Q2-2026
ADMG Berbalik Cetak Laba USD5,66 Juta pada Semester I 2026
Penjualan HM Sampoerna Semester I Rp56,5T, Gandakan Perolehan Laba
Pengelola Mayapada Hospital (SRAJ) Makin Tekor meski Pendapatan Naik





