Dua Dekade IRN, Dorong Inovasi Pangan Lokal
:
0
(Ki-Ka) : Prof. Dr Rachmat Pambudy Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas), Kemal Abdul Malik Institut Pertanian Bogor, Elen Bethania Pasaribu Universitas Jember, Adinda Nur Wulandari Universitas Lampung, Abdul Qohar Institut Teknologi Sepuluh November, dan Franciscus Welirang Direktur Indofood Sukses Makmur. Foto - Dok INDF
EmitenNews.com - Memasuki dua dekade pelaksanaan, Program Indofood Riset Nugraha (IRN) kembali menegaskan komitmen Indofood Sukses Makmur (INDF) mendukung generasi peneliti muda, dan pengembangan potensi pangan Indonesia. Melalui Simposium Pangan Nasional (SPN) 2026 bertema “Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Bangsa”, IRN mempertemukan pemerintah, akademisi, peneliti dan pelaku industri untuk membahas bagaimana riset dapat menjadi fondasi inovasi pangan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Secara rutin digelar setiap dua tahun, SPN merupakan bagian dari upaya berkelanjutan IRN memperkuat ekosistem riset, dan kolaborasi pangan Indonesia. Tahun ini, forum tersebut juga menjadi momentum start Program IRN 2026–2027, dengan 83 peneliti mahasiswa S1 terpilih dari total 595 proposal penelitian.
Pelaksanaan menjelang Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2026 turut membawa semangat “Innovate today. Nourish tomorrow”, tema sentral Hari Pangan Sedunia tahun ini. Semangat tersebut menjadi inspirasi ruang diskusi mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kekayaan sumber daya pangan, dan kearifan lokal guna mengembangkan solusi pangan bagi masa depan.
Memperkuat Dialog dari Riset Menuju Hilirisasi
SPN 2026 mengangkat tema “Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Bangsa” hadir sebagai pertukaran gagasan mengenai pengembangan pangan fungsional, dengan menghubungkan perspektif kebijakan, kesehatan, industri, dan regulasi. Forum ini membahas peluang pengembangan sumber daya lokal serta langkah yang diperlukan agar hasil riset pangan dapat bergerak menuju penerapan dan hilirisasi.
Rangkaian simposium mencakup keynote speech Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, mengenai kebijakan dan arah pembangunan nasional bidang pangan, gizi, kesehatan untuk kemandirian bangsa.
Diskusi dipandu salah satu tim pakar IRN, Prof. Dr. Fenny Martha Dwivany, menghadirkan Dyan Garneta Paramita Sari, dari Kementerian Perindustrian RI, yang mengupas kebijakan pengembangan industri pangan fungsional berdaya saing dan berbasis bahan baku lokal; beserta perwakilan Kementerian Kesehatan RI, untuk membahas peran pangan fungsional dalam mendukung perbaikan gizi dan pencegahan penyakit tidak menular; dan perwakilan BPOM RI, mengulas persyaratan keamanan, mutu, pelabelan, dan klaim dalam pengembangan pangan fungsional.
Pembahasan turut diperkaya perspektif akademisi dan praktisi, termasuk dr. Widjaja Lukito, Prof. Bustanul Arifin, Adhi S. Lukman, Winarti TK, dan Prof Purwiyatno Hariyadi. “Pengembangan pangan fungsional memerlukan keterhubungan antara riset, kebutuhan masyarakat, kesiapan industri, dan ketentuan regulasi. Melalui simposium ini, kami berharap para peneliti memperoleh pemahaman lebih utuh mengenai proses pengembangan inovasi, termasuk pentingnya bukti ilmiah, keamanan, mutu, dan ketepatan klaim, agar potensi pangan lokal dapat dikembangkan secara bertanggung jawab,” jelas Prof. Purwiyatno Hariyadi, Guru Besar IPB sekaligus Ketua Tim Pakar IRN.
Menghubungkan Potensi Pangan Lokal dengan Inovasi Berbasis Riset
Indonesia memiliki kekayaan sumber daya pangan beragam, mulai dari hasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan hingga rempah-rempah serta pangan fermentasi tradisional seperti tempe. Kekayaan tersebut diperkuat oleh pengetahuan dan kearifan masyarakat dalam mengolah serta memanfaatkannya.
Related News
Kembali Memantul, IHSG Sesi Siang Mendarat di 6.052 Naik 0,35%
Smelter NPI Overload, Legislator Dukung Moratorium Nikel
IHSG Jumat Pagi (9/10) Rebound Tipis Usai Kemarin Anjlok 1,88%
Trump Tahan Serangan, IHSG Tetap Tertekan
IHSG Kritis, Serbu Saham Tahan Banting Berikut
Wall Street Mixed, Minyak Brent Ngamuk ke USD104 per Barel





