Dulu Merajai Sekolah Era 2000an, Kini BATA Mode Bertahan Hidup
:
0
Dulu Merajai Sekolah Era 2000an, Kini BATA Mode Bertahan Hidup. Dok. Kumparan
EmitenNews.com - Masih ingat aroma khas sepatu hitam Bata yang baru dibeli menjelang tahun ajaran baru? Bagi banyak generasi, Bata bukan sekadar merek; itu adalah ritual wajib. Sepatu tangguh ini menemani kita dari lecet di lapangan bermain, jalan kaki menembus hujan, sampai upacara bendera tiap hari Senin.
Tapi, merek yang dulu membalut kaki jutaan orang ini sekarang sedang berjalan di atas tali tipis. Di balik nama besar legendaris ini, ada perusahaan yang sedang mati-matian melakukan transformasi struktural yang brutal.
Kalau kamu melihat PT Sepatu Bata Tbk (BATA) dari kacamata investasi, nostalgia tidak akan membayar dividenmu. Berikut adalah realitas telanjang tentang bagaimana perusahaan ini bertahan hidup di Kuartal I 2026.
Neraca Keuangan "Bantuan Hidup" & Defisiensi Modal
Mari kita bedah angkanya. Di atas kertas, perusahaan ini secara fungsional sedang terdesak. Total ekuitasnya anjlok parah menjadi negatif Rp151,64 miliar, terseret oleh defisit saldo laba yang menganga sebesar Rp173,14 milar.
Lalu, bagaimana lampu pabrik masih menyala? Perusahaan induknya, Bafin (Nederland) B.V. asal Belanda yang menguasai 82,01% saham BATA turun tangan menjadi pahlawan. Jika ditarik ke jejaring globalnya (Bata Shoe Organization), mereka disokong oleh entitas induk tertinggi, Compass Limited yang berbasis di Bermuda.
Ada utang usaha raksasa sebesar Rp188,26 miliar yang terutang langsung kepada pihak berelasi (grup global mereka sendiri) ini menyumbang hampir setengah dari total kewajiban mereka (Rp407,38 milar).
Menariknya, manajemen justru sangat agresif membayar utang bank pihak ketiga, melunasi Rp18,9 miliar dan hanya menarik pinjaman baru Rp6,9 miliar di kuartal ini. Mereka secara aktif menggeser risiko finansial dari bank, langsung ke pundak grup induk mereka.
Menyulap Debu Jadi Uang: Likuidasi Inventaris Agresif
Bertahan hidup butuh likuiditas instan, dan Bata mendapatkannya dengan 'cuci gudang' habis-habisan. Saldo persediaan merosot tajam dari Rp94,22 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp67,76 milar pada Maret 2026.
Related News
Pembekuan Indeks MSCI Berlanjut, Saham HSC Jadi Pemicu Utama
INACO JELI Resmi IPO: Free Float 21,01%, Masuk Papan & Indeks Ini
Pendapatan Turun 12,3%, Margin BSDE Justru Menguat Berkat Ini
WMPP Profit Rp130M Tapi Diberi Cap Opini Wajar dengan Pengecualian
Saham HSC Bertambah jadi 15, Ada Kepemilikan Saratoga & Thohir
Di Ambang Delisting, Emiten BUMN Sakit Ini Unjuk Rapor Hijau





