Ekonomi RI 2026 Hadapi Empat Risiko Utama, CSIS Beri Enam Rekomendasi
:
0
Ilustrasi aktivitas ekonomi. Peneliti Senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies Deni Friawan mengatakan, kombinasi faktor eksternal dan domestik membuat prospek ekonomi Indonesia ke depan sarat ketidakpastian. Dok. Merdeka.
EmitenNews.com - Sedikitnya ada empat risiko utama yang berpotensi membayangi perekonomian Indonesia pada 2026 penuh ketidakpastian. Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengidentifikasinya, antara lain tekanan global, keterbatasan ruang fiskal dan moneter, meningkatnya pengangguran usia muda, serta potensi gejolak harga pangan dan energi.
Dalam Media Briefing Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (7/1/2026), Peneliti Senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies Deni Friawan mengatakan, kombinasi faktor eksternal dan domestik membuat prospek ekonomi Indonesia ke depan sarat ketidakpastian.
Deni Friawan menguraikan, risiko pertama berasal dari kondisi ekonomi global yang diperkirakan masih melambat pada 2026. Mesin pertumbuhan utama dunia, terutama Amerika Serikat dan China dinilai belum menunjukkan pemulihan yang solid.
Saat ini, China menghadapi tekanan deflasi sehingga realisasi pertumbuhan ekonominya dipertanyakan. Sedangkan AS dibebani defisit anggaran dan utang publik yang besar, dan turut mendorong tekanan inflasi.
Perlambatan ekonomi juga terjadi di Eropa, termasuk Inggris dan Jerman, yang tengah menghadapi tekanan fiskal.
“Implikasinya, pertumbuhan ekonomi global 2026 akan sangat gloomy dan lebih lambat,” kata Deni.
Ketegangan geopolitik dan kebijakan perdagangan ketat memperburuk kondisi global
Selain perlambatan pertumbuhan, ketegangan geopolitik dan kebijakan perdagangan yang ketat dinilai semakin memperburuk kondisi global.
Menurut Deni, eskalasi konflik geopolitik, pembatasan ekspor chip dan tanah jarang (rare earth) oleh sejumlah negara, serta kebijakan tarif resiprokal AS meningkatkan ketidakpastian dan mengganggu rantai pasok internasional.
Situasi tersebut berisiko memicu volatilitas pasar keuangan global dan mendorong arus modal keluar secara tiba-tiba dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Related News
Bayangkan! IPO Pegadaian, Pupuk Indonesia, dan Pelindo Ramaikan Bursa
Pengajuan Destry Sebagai Calon Gubernur BI Angkat Rupiah 0,18 Persen
Hampir Pasti Destry Damayanti Gubernur BI, Presiden Ajukan ke DPR
Emas Dunia Stabil, Harga Emas Antam Bertahan di Rp2.690.000
Inflasi Jepang Dekati 2%, BOJ Sinyalkan Kenaikan Suku Bunga
Cek B50, Prabowo Minta Anak Cucu Pertamina dan PLN Dipangkas





