EmitenNews.com - Masuknya PT Darma Henwa Tbk (DEWA) ke dalam jajaran indeks bergengsi LQ45 yang akan efektif berlaku pada 4 Mei hingga 31 Juli 2026, divalidasi kuat oleh kinerja fundamental yang solid dan likuiditas pasar yang sangat memadai. Laporan keuangan konsolidasian interim kuartal pertama tahun 2026 mengonfirmasi bahwa kontraktor pertambangan milik Grup Bakrie ini sedang menikmati hasil dari efisiensi operasional secara nyata di lapangan.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, DEWA berhasil mencetak laba periode berjalan sebesar Rp92,71 miliar pada kuartal I 2026. Angka ini mencerminkan pertumbuhan yang signifikan, yakni sekitar 34,6 persen, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp68,88 miliar.

Menariknya, lonjakan laba bersih (bottom line) ini tidak ditopang oleh kenaikan total pendapatan (top line). Pendapatan Darma Henwa justru mengalami sedikit koreksi, turun dari Rp1,58 triliun pada Q1 2025 menjadi Rp1,54 triliun selama tiga bulan pertama tahun ini. Apa yang terjadi di balik angka-angka ini?

Kunci Pertumbuhan DEWA dengan Pangkas Biaya Subkontraktor

Peningkatan profitabilitas di tengah stagnasi pendapatan ini merupakan indikator bahwa manajemen DEWA berhasil mengeksekusi strategi efisiensi biaya secara agresif. Total beban pokok pendapatan berhasil ditekan menjadi Rp1,28 triliun pada kuartal pertama 2026, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp1,33 triliun. 

Faktor utama yang mendorong perbaikan margin perseroan adalah penurunan drastis pada pos biaya subkontraktor. DEWA memangkas biaya jasa pihak ketiga ini dari sebelumnya Rp463,68 miliar (Q1 2025) menjadi hanya Rp323,21 miliar di Q1 2026. Hal ini mengindikasikan perseroan mulai mengoptimalkan alat berat dan sumber daya internal alih-alih mengandalkan kontraktor eksternal. Selain itu, manajemen juga menunjukkan efisiensi dalam konsumsi energi operasional, di mana beban bahan bakar tercatat turun dari Rp56,23 miliar menjadi Rp48,61 miliar. 

Free Float 62,19%, Pantas Saja Mejeng di LQ45

Selain fundamental laba, tiket masuk LQ45 DEWA sangat ditopang oleh profil likuiditas sahamnya yang teramat gemuk. Berdasarkan data evaluasi terbaru Bursa Efek Indonesia (BEI), rasio free float (saham beredar di publik) DEWA ditetapkan di level 62,19 persen. Dengan jumlah saham yang diperhitungkan untuk indeks mencapai 25,30 miliar lembar, DEWA langsung mengamankan bobot sebesar 0,80 persen pada indeks LQ45. Bobot ini menjadi katalis penting karena akan memicu penyesuaian portofolio (rebalancing) dari para manajer investasi yang mengelola reksa dana indeks.

Data KSEI: Kepemilikan DEWA di Atas 1%

Di balik tingginya rasio free float tersebut, deretan pemegang saham kakap perseroan tetap didominasi oleh nama-nama besar.