EmitenNews.com - Kuartal pertama 2026 bagi ANTAM (ANTM) bukan sekadar soal jualan emas yang laris manis, melainkan sebuah titik balik strategis perseroan yang terekam diam-diam di dalam pembukuannya. Tepatnya pada 30 Januari 2026, ANTM mencatatkan milestone penting berupa penandatanganan Framework Agreement terkait proyek Industri Baterai Kendaraan Listrik (EV) Terintegrasi.

Bersama PT Industri Baterai Indonesia (IBI) dan konsorsium raksasa China yang dimotori Huayou Cobalt, ANTM meresmikan rencana megaproyek dari hulu ke hilir. Ada tujuh proyek utama yang disepakati, mulai dari tambang, smelter, pabrik HPAL, katoda, hingga daur ulang baterai. Ini adalah sinyal nyata bahwa transisi ANTM menjadi pemain utama ekosistem EV global sedang berjalan serius. Namun di balik langkah senyap ini, Antam tetap menuai performa solid. Bagaimana kinerja yang dibukukan selama kuartal pertama tahun ini?

Mengenal Proyek EV ANTM

Aneka Tambang (ANTM) mengemban mandat strategis dari holding BUMN tambang (Grup MIND ID) melalui konsorsium Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk menjadi pelaksana mega-proyek hilirisasi ekosistem baterai EV terintegrasi. 

Dalam rantai pasok ini, ANTM bertugas sebagai jangkar di sektor hulu (upstream pertambangan bijih nikel) hingga pengolahan menengah (midstream). Untuk mewujudkan proyek ini, ANTM mengikat perjanjian joint venture (usaha patungan) bernilai ratusan triliun dengan raksasa pemain baterai global asal China, seperti Contemporary Brunp Lygend (anak usaha Contemporary Amperex Technology Co., Limited.) dan Huayou Cobalt.

Rantai produksinya dirancang agar bijih nikel ANTM masuk ke smelter berteknologi HPAL (High-Pressure Acid Leaching) untuk diolah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), lalu diekstraksi lebih lanjut menjadi prekursor dan material katoda, hingga akhirnya dirakit menjadi sel baterai utuh.

Aset ANTM Melonjak Akibat Aksi Borong Persediaan

Meskipun mega-proyek EV ANTAM belum terealisasi, ada hal yang menarik dari mesin operasional mereka saat ini. Total kekayaan (aset) ANTM tiba-tiba melonjak tajam hanya dalam tiga bulan, dari Rp52,53 triliun di akhir 2025 menjadi Rp63,29 triliun pada 31 Maret 2026.

Setelah ditelusuri, ternyata lonjakan aset ini didorong oleh aksi akumulasi persediaan barang yang sangat agresif. Pos persediaan di gudang bertambah lebih dari 100 persen, dari Rp7,73 triliun menjadi Rp16,84 triliun. Pada bagian arus kas terkonfirmasi juga hal ini, perusahaan menggelontorkan dana tunai hingga Rp31,95 triliun hanya untuk membayar pemasok. Secara bisnis, langkah ini merupakan pilihan taktis manajemen untuk mengamankan pasokan komoditas fisik secara masif di awal tahun.

Arus Kas Tekor, Manajemen Ternyata Tarik Tuas Utang