Emas ATH Gelembung Spekulasi atau Bukti Runtuhnya Sistem Moneter Fiat?
Ilustrasi Emas. Dok. NEWSTIMES
Faktor eksternal yang turut memanaskan harga emas adalah ketegangan diplomatik terkait perebutan hak mineral di wilayah Greenland serta ancaman kebijakan tarif dagang global yang bersifat proteksionis. Ketidakpastian geopolitik ini menciptakan premi risiko yang tinggi pada harga komoditas strategis. Dari sisi penawaran, dunia sedang menghadapi kelangkaan cadangan emas baru yang siap tambang, di mana biaya eksplorasi terus meningkat secara eksponensial tanpa diiringi dengan penemuan deposit raksasa yang signifikan.
Kelangkaan suplai jangka panjang ini, dikombinasikan dengan meningkatnya permintaan dari industri teknologi mutakhir untuk komponen semikonduktor, memberikan fondasi kuat bagi para analis untuk memprediksi bahwa level harga $5.000 akan menjadi standar normal baru atau new normal dalam beberapa tahun ke depan.
Kesimpulan Due Diligence untuk Investor
Bagi investor yang ingin melakukan penempatan modal di sektor ini, sangat krusial untuk membedakan antara pertumbuhan pendapatan yang bersifat semu akibat kurs dengan pertumbuhan laba yang didorong oleh efisiensi operasional. Due diligence atau uji tuntas harus difokuskan pada emiten yang memiliki kontrol biaya produksi yang ketat dan struktur neraca yang sehat dari beban utang dolar Amerika Serikat.
Investor disarankan untuk memprioritaskan emiten yang memiliki kejelasan target produksi baru dan efisiensi margin. Di tengah ketidakpastian nilai tukar Rupiah, emas dan saham emiten berbasis emas tetap menjadi jangkar portofolio yang relevan, namun pemilihan instrumen harus didasarkan pada ketahanan fundamental perusahaan terhadap fluktuasi biaya, bukan sekadar mengikuti euforia harga spot global.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya milik Anda, riset ini adalah instrumen edukasi, bukan instruksi transaksi.
Related News
Mengapa Pendapatan MDKA Turun Tapi Laba Melompat dan Saham Meroket?
Apakah INET Adalah Jawaban Atas Dahaga Infrastruktur Digital Bangsa?
Mampukah Rekor IHSG 9.174 Bertahan dari Tekanan Gravitasi Rupiah?
Bukan Sekadar Yogurt, Kanzler Jadi Lokomotif Utama Pertumbuhan CMRY
Masihkah Telkom Indonesia Menjadi Safe Haven di Era Danantara?
Dilema Valuasi NEST: Menguji Resiliensi Model Bisnis Tanpa Utang





