Fundamental Ajeg, ASLI Catat CAGR Aset 34 Persen
:
0
Manajemen PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI). Foto: EmitenNews/Rifki
EmitenNews.com - PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI) mencatatkan pertumbuhan fundamental solid sepanjang periode 2021 hingga 2025, tercermin dari pertumbuhan aset dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 34,0 persen.
Hingga akhir 2025, total aset ASLI tercatat sebesar Rp427,88 miliar. Di saat yang sama, Perseroan juga berhasil menekan total liabilitas menjadi Rp52,47 miliar, turun sekitar Rp10,26 miliar dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar Rp62,64 miliar.
Direktur Utama, Agus Karyanto mengatakan, penguatan fundamental juga terlihat dari sisi ekuitas yang tumbuh 40,1 persen sepanjang 2021–2025. Pada akhir tahun buku 2025, total ekuitas ASLI tercatat sebesar Rp375,40 miliar.
“Dengan rasio utang terhadap ekuitas (DER) yang terjaga di level rendah, yakni 0,14 kali, ASLI dinilai masih memiliki ruang yang cukup besar untuk meningkatkan kapasitas pendanaan dari pihak ketiga guna mendukung ekspansi usaha,” ujar Agus.
Meski demikian, secara tahunan kinerja operasional ASLI menghadapi tekanan sepanjang 2025. Pendapatan tercatat sebesar Rp115,72 miliar, menurun dibandingkan tren pertumbuhan signifikan pada periode 2021–2024.
Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh selesainya sejumlah proyek carry over, sementara realisasi kontrak baru masih terbatas seiring menurunnya alokasi anggaran infrastruktur pemerintah. Kondisi ini berdampak pada bottom line Perseroan yang membukukan kerugian tahun berjalan sebesar Rp112,46 miliar.
Tekanan kinerja tersebut turut memengaruhi posisi aset yang menurun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp550,49 miliar. Penurunan aset berasal dari berkurangnya pos kas dan setara kas, piutang retensi, tagihan bruto pemberi kerja pihak ketiga, serta aset lainnya.
Sementara itu, ekuitas juga turun dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp487,86 miliar. Penurunan ini terutama berasal dari tergerusnya saldo laba akibat rugi bersih yang dibukukan sepanjang tahun.
Meski begitu, manajemen menilai posisi ekuitas Perseroan masih cukup kuat dan menyediakan buffer yang memadai untuk mendukung proses pemulihan kinerja.
Dari sisi operasional, beban usaha Perseroan masih didominasi biaya penyusutan peralatan konstruksi yang mencapai hampir Rp40 miliar per tahun. Peningkatan beban tersebut berasal dari penambahan peralatan baru pada akhir 2025 sebagai bagian dari strategi memperkuat kapabilitas dalam mengikuti tender proyek di masa mendatang.
Related News
Fitch Rating Sematkan Peringkat Japfa Comfeed (JPFA) B+
Perkuat Modal, BINA Rancang Private Placement 80 Juta Lembar
Cari Modal, Grup Bakrie (ENRG) Right Issue 13,5 Miliar Lembar
Gerak Senyap NTBK Awal Manuver Dana Jumbo?
Melorot 67,7 Persen, Laba SGRO Sisa Rp107,93 Miliar Kuartal I 2026
Kawal Tren Positif, Bank Neo Raup Laba Rp136,98 Miliar Kuartal I 2026





