EmitenNews.com - Perdagangan pasar saham Indonesia hari ini berpeluang menghijau kembali, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan ditopang sentimen positif terkait kekuatan fundamental perekonomian di dalam negeri. Analis PT Indosurya Bersinar Sekuritas, William Suryawijaya mengatakan, laju IHSG masih bergerak dalam tren konsolidasi wajar dalam kecenderungan berbalik menguat, setelah kemarin kembali berakhir di zona merah yang melanjutkan tren penurunan jangka pendek. "Namun, peluang kenaikan masih terlihat dalam pola pergerakan IHSG yang ditunjang oleh kuatnya fundamental perekonomian dari data terlansir," kata William, di Jakarta, Rabu (14/8). Menurutnya, aliran modal masuk (capital inflow) secara year-to-date yang menjadi katalis positif di pasar, juga akan menunjang kenaikan IHSG . "Hari ini IHSG berpotensi menguat," kata William. Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup melemah 0,63 persen ke level 6.210 dengan aksi jual bersih investor asing (net sell) tercatat mencapai Rp1,03 triliun. Adapun top net sell value terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Astra International Tbk (ASII). Lebih lanjut William menyebutkan, saat ini IHSG memiliki support terdekat yang akan berupaya dipertahankan pada level 6.231, sedangkan target resiaten terdekat yang berusaha ditembus ada di posisi 6.372. Di tengah potensi pembalikan arah menguat pada laju IHSG hari ini, William merekomendasikan sembilan saham yang bisa dicermati pelaku pasar, yakni: 1. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) 2. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) 3. PT Mayora Indah Tbk (MYOR) 4. PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) 5. PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) 6. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) 7. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) 8. PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) 9. PT Pakuwon Jati Tbk (PWON). (Romys)
Related News
Cerita Di Balik Angka Laba Cimory di Tahun 2025 Part 1
Program Susu Sekolah MBG jadi Katalisator Ultrajaya Tekan Biaya Iklan
Efek Hormuz dan Prospek Fiskal, Bagaimana Nasib Market Ke Depan?
Transparansi 1 Persen - Titik Buta Pengawasan Pasar: Studi Kasus TPIA
Memaknai Rating Outlook Negatif Fitch dan Moody's untuk Indonesia
Borok Setelah Satu Persen Dibuka Part 3





